72 Indonesian Inspiring Women 2017: Eka Sari Lorena CEO of ESL Logistics and ESL Express

Generasi kedua dari trah Soerbakti ini belum tergantikan mahkotanya di bisnis transportasi maupun pengiriman darat Indonesia. Figurnya terkenal dengan intuisi dan manajerial yang profesional.

 

Ibu dua anak ini mendirikan perusahaan khusus pengiriman barang atau logistik bernama ESL Express dan ESL Logistics. Dia membangun perusahaan tersebut didorong kendala perusahaan sering dikejar, apabila ada barang hilang.

Franchise ESL Express terus bertambah setiap tahunnya. Kini, telah memiliki sekitar 1323 agen. Semakin pesatnya kemajuan era digital, ESL Express tetap unggul bersaing, bahkan meraih Digital Popular Brand Award tahun 2016.

Dalam sebuah tulisan pendeknya yang berjudul Raksasa Dunia Terus Berekspansi, Bagaimana Dengan Perusahaan Lokal? Diungkapkan mengenai kekhawatiran terhadap pertumbuhan perusahaan logistik di Indonesia dengan menggunakan analogi pertumbuhan e-commerce.

“Bagaimana bila saham e-commerce di Indonesia, akhirnya dibeli oleh raksasa e-commerce dunia? Ketika nanti pasar e-commerce Indonesia sudah matang, bukankah justru investor luar negeri yang pesta pora. Demikian halnya di bisnis logistik. Ketika perusahaan logistik lokal satu per satu diakuisisi perusahaan logistik dunia, nanti siapa yang memanen? So, saya harap perusahaan lokal mau tumbuh secara bertahap. Tidak tergiur dengan nilai akuisisi dari investor asing dari luar negeri tanpa memberi nilai tambah,” ungkap Eka.

Sulung dari tiga bersaudara ini terbilang cerdas dalam mengatur strategi di permasalahan perusahaan ataupun industrinya. Misalnya, ketika tarif pesawat dan bus sama nilainya atau bahkan jauh lebih murah.

Dia mengatur agar diadakan rerouting, sehingga tidak langsung bersinggungan dengan jalur pesawat. Eka pun memulai dari tahap yang sama seperti karyawan umumnya. Saat mulai bekerja dengan ayahnya tahun 1992, dia hanya memperoleh gaji sekitar Rp1.200.000, meninggalkan kariernya sebagai marketing executive di Amerika Serikat dengan gaji ribuan dolar.

Dia pun mengikuti arus mudik Jakarta-Solo selama 36 jam pada 2016, agar merasakan apa yang dilalui oleh para pegawai di lapangan, jadi bukan sekadar menginstruksikan perintah dari Jakarta.

Melalui yayasan Sejuta Sahabat Indonesia milik perempuan kelahiran 3 Juni 1969 ini, dia mencetak lebih banyak ahli logistik melalui pendidikan formal S2 di Indonesia.

Program ini bekerjasama dengan Maastricht School of Management (MSM) dan Universitas Udayana, Bali, di tahun 2016. Eka berharap Indonesia mampu mencetak prestasi penurunan biaya logistik hingga 5% dan lebih kompetitif.

Dia juga aktif menuangkan pengalamannya ke dalam buku ataupun karya tulis, antara lain Ayo Lawan Kemacetan, Transportasi Multimoda Angkutan Barang, Improving Public Transportation, dan masih banyak lainnya lagi. Asa Sakina Tsalisa | Istimewa

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here