72 Indonesian Inspiring Women 2017: Khofifah Indar Parawansa Menteri Sosial RI

 

Menteri yang mencintai kesederhanaan ini merupakan sosok lincah serta tanggap saat menunaikan amanah tanpa kenal waktu di berbagai situasi. Kesejahteraan masyarakat adalah tujuan dari setiap ikhtiar bersamanya.

Presiden Jokowi memang tak salah menempatkan perempuan asli Surabaya ini sebagai pimpinan tertinggi di Kementerian Sosial. Menilik catatan pengalaman yang dimiliki ibu dari empat anak ini di ranah politik, pemerintahan, maupun organisasi sosial kemasyarakatan selama lebih dari dua dekade terakhir telah teruji. Dalam rentang waktu tersebut, Khofifah tetap konsisten menjaga pilihannya menjadi abdi masyarakat di mana pun berada. Bahkan, perempuan kelahiran 19 Mei 1965 ini sungkan jika menerima perlakuan istimewa di setiap kunjungannya di berbagai daerah maupun acara kenegaraan.

Memasuki tahun ketiga masa jabatan menteri sosial, alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga tersebut telah membidani pembaruan dalam program maupun layanan di Kementerian Sosial. Berbagai program unggulan telah dirintisnya antara lain program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) serta program pendirian elektronik warung gotong royong (e-warong).

Program Keluarga Harapan (PKH) dan Beras Keluarga Sejahtera (Rastra) adalah salah satu cara untuk mengurangi angka dan
memutus rantai kemiskinan, mengembangkan kualitas sumber daya manusia, serta meningkatkan kesejahteraan dari kelompok paling miskin.

Berdasarkan hasil evaluasi Bank Dunia pada 2012 dan 2015, PKH berperan meningkatkan kunjungan ibu hamil ke fasilitas layanan dasar kesehatan sebesar 7%, pemeriksaan kesehatan balita bertambah 22%, dan pengeluaran keluarga untuk makanan berprotein tinggi mencapai 10%.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis awal 2016, juga menunjukkan meningkatnya peluang anak-anak usia 7 tahun sebanyak 0,17 tahun, dibandingkan tahun 2015. Kesempatan mengenyam pendidikan pendudukusia 25 tahun ke atas ikut meningkat 0,11 tahun daripada tahun sebelumnya. “Tahun ini, dari total 6 juta penerima bantuan PKH, 50% akan menerima secara nontunai dan disalurkan di 98 kota dan 200 kabupaten. Pada 2018 menjadi 10 juta keluarga penerima,” imbuh menteri yang ‘melek’ media sosial ini.

Dalam berbagai program bantuan, menteri yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat ini menekankan pentingnya menyejahterakan para ibu sebagai pondasi keluarga dan tiang negara. Oleh karena itu, 100% penerima PKH adalah wanita. Di setiap kesempatan, dia juga menyerukan kepada para penerima manfaat PKH, agar menjadi ‘rumah’ terbaik untuk anak maupun suami lewat kesantunan dan
penuh kasih sayang. Silvy Riana Putri | Fikar Azmy

 

Women’s Obsession edisi Agustus 2017

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here