Sang Putri Mandalika

Bagi sebagian orang, cacing mungkin merupakan binatang yang kerap dihindari atau kurang penting.  Namun hal tersebut, tidak berlaku bagi suku Sasak di Lombok. Berbondong-bondong menangkap cacing di laut, masyarakat setempat percaya bahwa hewan tersebut merupakan reinkarnasi Putri Mandalika, putri Raja Seg dari kerajaan Tunjung Beru. Biasanya dihelat pada pertengahan bulan Februari sebagai agenda budaya tahunan.

 

Kisah Awal Bau Nyale Mandalika

Tumbuh sebagai anak raja, Putri Mandalika berparas sangat cantik. Kecantikannya menjadi rebutan para pria. Tidak hanya masyarakat biasa yang jatuh hati padanya, berbondong-bondong pula pangeran dari kerajaan lain. Hal ini membuat sang putri merasa gelisah. Dia tidak ingin terjadi perpecahan, apalagi pertumpahan darah karena dirinya. Akibat hal tersebut, sang putri memutuskan untuk bunuh diri dengan terjun ke laut. Sejak saat itu, setiap tanggal 20 bulan kesepuluh dalam kalender Sasak akan muncul cacing Nyale -sejenis cacing laut dengan warna beragam, yakni hitam dan hijau kekuningan- di sela-sela batu karang dan pesisir pantai.

 

Hingga saat ini, masyarakat Lombok percaya bahwa siapapun yang mendapatkan cacing ini akan mendapat keberuntungan. Sebaliknya, jika ada masyarakat yang mengabaikan cacing ini, maka akan tertimpa musibah atau kemalangan. Tidak hanya itu, ada pula masyarakat yang langsung memakannya dalam kondisi mentah. Menurut kepercayaan lokal, seorang wanita bisa menuruni kecantikan Putri Mandalika, jika memakan cacing tersebut. Sementara bagi kaum pria, mereka akan diberkati dengan semangat dan keberanian yang tinggi. Tidak hanya itu, cacing Nyale ini juga dipercaya mampu membuahkan kesuksesan panen.

 

Beberapa hari sebelum pelaksanaan, para tetua adat akan memprediksi kemunculan nyale ini. Beramai-ramai datang ke pantai sebelum fajar. Biasanya masyarakat menggunakan keranjang kecil yang terbuat dari anyaman bambu untuk mulai menangkap dan mengumpulkan nyale sebanyak mungkin. Setelah ditangkap, biasanya akan bertahan hidup selama dua hingga tiga hari.

 

Selain prosesi penangkapan cacing, festival ini juga dimeriahkan dengan Parade Mandalika. Melibatkan anak-anak dan pemuda desa sekitar, para orang tua akan mendandani anak-anaknya dengan pakaian tradisional. Sementara itu, salah satu anak perempuan akan didandani dengan sangat cantik. Menggunakan pakaian khas keraton, anak tersebut akan menduduki peran sebagai Putri Mandalika. Tidak semata-mata menjadi parade budaya, para pemeran Putri Mandalika ini akan diberikan hadiah oleh pihak penyelenggara. Inilah yang membuat setiap desa berlomba-lomba menjadikan anak gadisnya menjadi kembang desa.

 

Ada pula ajang Peresean, pertarungan antara dua pria dewasa yang menggunakan tongkat rotan (penjalin) dan memiliki perisai dari kulit kerbau yang keras dan  tebal (ende). Sang petarung biasa disebut pepadu dan wasit dikenal sebagai pakembar. Selain Peresean, ada pula kegiatan bersih-bersih pantai, lomba voli pantai, berselancar, dan lomba swafoto dengan menggunakan kamera ponsel. Kampung kuliner yang menjajakan beragam panganan khas Lombok juga turut diadakan oleh pihak penyelenggara. Tidak lupa acara hiburan yang menampilan tarian khas Lombok.

 

Umumnya, rangkaian prosesi akan ditutup saat tetua adat mengarungi laut untuk memerhatikan pemijahan, yakni salah satu proses reproduksi nyale. Dari sana, mereka dapat memprediksi panen padi di masa panen selanjutnya berdasarkan jumlah cacing yang ada. Tangkapan yang baik merupakan salah satu pertanda hasil panen yang optimal pula. Indah Kurniasih

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here