Kanvas Seni Asia Tenggara

Selain kiblat seni di Art Basel, Singapura salah satu hub seni yang diperhitungkan se-Asia Tenggara. Di akhir Januari silam, telah sukses dihelat Art Stage Singapore kedelapan bertemakan ‘Innovates Art Fair Concept’. Perayaan seni kali ini banyak berkaitan dengan karya-karya yang mempengaruhi lingkungan seni dan difokuskan kepada karya-karya seniman Thailand.

Berperan sebagai katalisator, pesta seni yang berlangsung selama tiga hari ini memainkan peran memperluas jangkauan kolektor, seniman, dan penggerak industri kreatif dari berbagai belahan dunia. Marina Bay Sands, Expo & Convention Centre Level 1 Halls A – C menjadi pojok seni yang ramai serba seni. Dengan menonjolkan ciri khas masing-masing negara, setiap karya tampil dengan keunikan tersendiri.

Sebut saja perupa dari Filipina, Jigger Cruz. Dia menampilkan dominasi warna gelap pada karyanya yang berjudul ‘Poor Sunset Boulevard’. Berasal dari negeri yang sama, Rodel Tapaya memadukan dominan warna gelap berpadu warna berani pada karya ‘Baston ni Kabunian, Bilang Pero di Mabilang’ (Cane of Kabunian, Numbered But Cannot Be Counted). Sementara, Natee Utarit (Thailand) memamerkan identitas warna-warna netral di ‘Theatre of the Absurd’.

Datang dari negeri Anak Benua, S.H. Raza mempertunjukkan dua karya, berjudul ‘Swadharma’ dan ‘Prakriti – Bindu Series’. Keduanya menampilan elemen-elemen geometri berbalut ragam warna, seperti hijau, biru, hitam, dan kekuningan. Lain halnya dengan perupa asal Korea, Hyung Koo Kang. Dia menampilkan visual wajah pria berambut panjang tampak sarat emosi. Ekspresi karya berjudul ‘Self Portrait’ tersebut dibahasakan lewat warna merah dengan sedikit sentuhan hitam dan kuning. Sementara itu, tiga perupa asal negeri Matahari Terbit, yakni Kazuo Shiraga, Shozo Shimamoto, dan Atsuko Tanaka memajang karya-karya jenis abstrak penuh warna.

Tak ketinggalan, lebih dari tujuh seniman Tanah Air turut menggores cerita istimewa di hati penikmat seni. Antara lain yang ikut serta adalah Heri Dono, Auguste Soesastra, Iqi Qoror, Agustan,  Entang Wiharso, dan sejumlah nama seniman lainnya. Tak kurang dari dua puluh karya ikut dipamerkan. Seperti ‘Gunungan’ karya Ahmad Sadali yang menampilkan salah satu karya pewayangan yang menjadi ciri khas budaya Jawa. Berlatar belakang hijau tua, lukisan ini juga diisi warna-warna lembut lainnya. Adalagi ‘Horizon and the Fishing Boats’ karya Srihadi Soedarsono yang tampil dengan dua perahu nelayan dalam kanvasnya. Dikemas dengan dominasi warna biru mengisahkan kekayaan laut Indonesia yang menjadi sumber penghidupan para nelayan.

Terpampang pula karya-karya Heri Dono yang tampil dengan atraktif. Menampilkan karakter primata di dua lukisannya, ‘The Monkey Astronaut’ dan ‘The Cowboy and World Peacekeepers’ lewat harmonisasi warna-warna yang cerah. Karya lainnya yang berjudul ‘The Skeleton Angel’ menampilkan tengkorak dengan sayap dan sepatu koboi. Indah Kurniasih ǀ Istimewa

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here