Mendalami Sang Pram

Mengenal lebih dekat salah satu sastrawan terbaik Indonesia Pramodya Ananta Toer, Dia.Lo.Gue menggelar pameran “Namaku Pram: Catatan dan Arsip”. Pramoedya Ananta Toer sendiri bukanlah nama yang asing bagi dunia sastra Tanah Air. Dia berhasil menorehkan berbagai prestasi yang menjadi bukti baktinya untuk kemanusiaan dan Indonesia. Dia dikenal lewat pikiran yang dituliskan di tengah tekanan penguasa saat itu. Sosok pencerita ulung yang sudah melahirkan lebih dari 50 judul buku, diterjemahkan ke dalam 42 bahasa, dan telah dibaca di berbagai negara.

Pameran ini dibagi ke dalam sembilan titik, yaitu Dinding Perjalanan Hidup, Ruang Catatan dan Arsip, Ruang Video, Dinding Memorabilia, Kamar Kerja Pram, Sketsa Bakar Sampah, Wajah Buku, Taman Kata-Kata, dan Renungan Buku. Sebanyak 70 hingga 80 persen koleksi yang dipamerkan di Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta tersebut merupakan milik keluarga Pram. Begitu memasuki ruang pameran, terdapat infografis perjalanan hidup Pram yang tertera di dinding. Terpampang pula berbagai kutipan-kutipan karya miliknya. Salah satunya ialah ‘Jangan berlagak tidak mengerti, kalian cukup mengerti apa yang harus kalian lakukan. Lakukanlah yang terbaik untuk Indonesia dan untuk kalian sendiri. Kalian cukup pandai, kalian cukup punya keberanian, kalian cukup punya keahlian, mempersatukan semua angkatan muda. BERGERAK! Terus sampai tercapai tujuan dan selamat’.

Di bagian ‘Dinding Memorabilia’ terlihat barangbarang pribadi Pram dan pemberian teman-teman atau mereka yang mengaguminya, antara lain lukisan ‘Nyai Ontosoroh’ karya Galam, 2002. Lukisan ‘Solilouy’ karya Enrico Soekarno, 2002, serta gambar Pram dari masa ke masa oleh Enrico Soekarno.

Sementara di titik ‘Kamar Kerja Pram’ cukup menggambarkan suasana ruangan kerjanya dengan meja yang selalu menghadap ke barat, dia terbiasa bekerja dengan lebih dari dua atau tiga mesin tik. Saat bosan atau butuh istirahat, dia akan pindah topik bahasan ke mesin tik lainnya. Di mejanya selalu tersedia asbak dan rokok. Ada pula, sarung yang disukai Pram, celana, kemeja favorit Pram, piagam Hadiah Budaya Asia Fukuoka (Fukuoka Cultural Grand Prize), 2000; dan piagam UNESCO Madanjeet Singh Prize, Perancis, 1996.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here