Politisasi Kewarasan

Teater Gandrik kembali menghibur para pecintanya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. Kali ini, mereka mempersembahkan pertunjukan bertajuk Hakim Sarmin pada awal April silam.

Pementasan menceritakan tentang para hakim yang memilih masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sumber Waras yang disebut-sebut sebagai pusat rehabilitasi. Sementara itu, hakim yang menolak untuk masuk ke RSJ, malah ditemukan tewas terbunuh.

 


Pembersihan para hakim ini tak pelak membuat kecemasan ke berbagai lapisan masyarakat. Bagaimana tidak, dengan hakim-hakim yang ditemukan terbunuh dan sisanya masuk pusat rehabilitasi, maka negara pun mengalami krisis hakim. Tidak adal agi yang bisa menegakkan keadilan bagi siapa pun.

“Kisah yang ‘membongkar’ kegilaan masyarakat di tengah carut-marut hukum ini menjadi cerita yang kocak dan penuh satir ketika di atas pentas.

Adegan demi adegan yang dibawakan tak sekadar mengundang gelak tawa, tapi juga guyonan penuh kesatiran yang membuat kita memikirkan kembali arti kewarasan,” ujar Agus Noor selaku penulis naskah.

Pertunjukan yang diperankan oleh Butet Kartaredjasa sebagai Hakim Sarmin, Susilo Nugroho sebagai dr. Menawi Diparani, dan para pemeran lainnya terasa dekat di hati. Kebetulan atau tidak, temanya sarat isu yang tengah marak, seputar Pilkada, penangkapan hakim mahkamah konstitusi, ataupun ‘permainan’ proyek KTP elektronik.

Misalnya, tersurat perilaku bersiasat licik untuk saling menjatuhkan, orang-orang yang lebih mendahulukan kepentingan politik, dan kekuasaan ambisi. “Kegilaan dimulai dari pikiran. Revolusi selalu diawali oleh mereka yang gila. Inilah zaman ketika kegilaan sudah menjadi tren. Kalau tidak gila dianggap jadul, kurang gaul,” seru Butet dalam potongan dialognya.

 


Selain didukung gagasan seni sebagai salah satu corong kritik sosial, pementasan ini juga diramaikan dengan alunan musik dan pengalaman para pelakon.

Salah satunya di adegan menyentil politisi muda, Bung Kusane Mareki yang sangat berambisi terhadap kekuasaan menghadapi situasi dilematis. Di antara pemimpin kota yang selama ini dekat dengannya, atau golongan yang sepaham dengan Hakim Sarmin.

Terasa familiar kondisi ini di alam memori Anda? Di adegan tersebut, dia diberitahukan bahwa jika memilih Mangkane Laliyan, maka tidak ada seorang pun yang menjamin atas pembagian kedudukan yang adil untuknya.

Akhirnya, di lakon tersebut Bung Kusane memilih ikut bersama pasukan Hakim Sarmin, yang artinya harus melawan Mangkane dan kebijakannya. Indah Kurniasih | Edwin Budiarso

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan majalah Women’s Obsession edisi Mei 2017

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here