Fetty Kwartati: Satu Kain, Berjuta Makna

Mengoleksi wastra Nusantara sama seperti memasuki relung-relung kehidupan para pengrajin. Selama bertahun-tahun, mereka berinteraksi dengan kain yang sama. Dari sehelai kain yang bernilai sebagai warisan bangsa, juga tertuang kisah hidup seseorang.

Fetty Kwartati. Salah satu perempuan dalam jajaran direktur PT Mitra Adiperkasa (MAP) TBK yang setia menjaga akar budaya negeri. Kecintaannya dengan kain bermula sejak tahun 2005. Koleksi kain warisan oma yang memikat hatinya.

“Saya senang melihat keindahan warna dan motif serta menelusuri pesan atau doa yang terkandung di dalamnya,” jelas director of investor relations MAP ini kepada Women’s Obsession.

Saat kami berjumpa, Fetty sedang menyiapkan segala kebutuhan untuk perjalanan bisnis ke Inggris. Namun kesibukan tersebut, tidak menurunkan keseriusan ibu dua anak ini dalam berbagi cerita tentang kain, sama seperti nama instagramnya.

Dengan kesungguhan hati, Fetty memboyong beberapa kain batik dan tenun yang berusia ratusan tahun.

“Di rumah, saya memiliki satu ruangan khusus untuk menyimpan koleksi kain. Dan di setiap sudut rumah, saya menaruh gawangan untuk memajang kain secara berkala. Setiap dua hari sekali, kain diganti agar memiliki waktu untuk ‘bernapas’,” katanya.

img_7375

Di ruang kerjanya,Fetty juga menyiapkan dua gawangan untuk memajang kain koleksinya. Dia sengaja membawa beberapa kain untuk dinikmati selama beraktivitas di kantor.

Jumlah koleksi kain Fetty sudah mencapai ratusan. Jenisnya pun beragam mulai dari batik, tenun, hingga songket. Usia kainnya ada yang mencapai 250 tahun.

“Kain itu warisan dari oma. Saya tidak bawa ke sini, karena kondisinya sudah rapuh sekali. Usia kain paling tua yang saya bawa saat ini adalah 125 tahun. Batik Pekalongan dengan motif pagi sore,” ujarnya penuh semangat.

Mengingat usia kain koleksinya sudah ratusan tahun, Fetty sangat detail dalam perawatan, penyimpanan, dan perbaikannya.

Dia menuturkan beberapa dari kainnya sudah ditisik untuk menutupi bolong-bolong yang kerap muncul di kain tua. Biaya untuk menisik kain tersebut sekitar Rp3 juta dan lokasi penjahitnya ada di Yogyakarta.

img_7404

Baru-baru ini, Fetty membeli tenun khas Nusa Tenggara Timur (NTT). Lebih tepatnya di daerah Belu. Dia membeli dari bekas istri Raja Belu. Setiap kali membeli kain, Fetty berupaya langsung mendatangi daerahnya.

Untuk mendapatkan Tenun khas Belu ini, Fetty membutuhkan perjuangan waktu sekitar 12 jam. “Setiap kain koleksi saya, punya cerita dan perjuangan sendiri. Untuk mendapatkan kain Belu ini, dari Kupang masih naik mobil lagi selama delapan jam.

Lalu, disambung dengan angkutan setempat selama empat jam. Barulah, kami tiba di lokasi. Karena istri raja tersebut tidak bisa berbahasa Indonesia, kami membeli dengan perantara masyarakat setempat,” serunya.

img_7372

Kecintaannya kepada wastra Nusantara juga terhipnotis oleh dedikasi para pengrajin saat berkarya.

“Seperti yang kita ketahui bersama, para pengrajin butuh waktu satu sampai dua tahun untuk menghasilkan kain. Contohnya pembuatan kain batik. Satu kain melibatkan dua pengrajin. Satu untuk mencanting, satu untuk melorot (pewarnaan).

Selama pembuatan tersebut, banyak di antara mereka memilih berpuasa atau mutih, agar kebersihan jiwanya mendukung kelancaran dalam berkarya.

Bisa dibayangkan pula, mereka secara presisi mengumpulkan titik di sisi kain yang satu, agar tepat berada di tempat yang sama di sisi kain lainnya. Jadi, dari satu kain itu tertuang pemikiran dan harapan para pengrajin seutuhnya,” tandas perempuan yang aktif di CISV (Educational Experiences for Children and Youth) cabang Jakarta. Silvy Riana Putri | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Oktober 2016

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here