Lidya Adhikumoro: Terobsesi Tas Branded

Sejak dahulu perempuan dan tas bisa dikatakan memiliki ‘hubungan’ tak terpisahkan. Hampir setiap  hari tas menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari.

Kehadiran tas ternyata tak hanya bersifat fungsional, tetapi juga diyakini bagi sebagian besar perempuan untuk menambah prestige tersendiri yang menunjang penampilannya.

Namun, bagi beberapa perempuan seperti Lidya Adhikumoro tas merupakan obsesi tersendiri dalam hidupnya. Sejak remaja dia telah jatuh cinta pada ragam tas branded dan menjadi hobi untuk dikoleksi.

Perkenalan Lidya dengan tas-tas branded sudah dimulai sejak dia masih remaja. Maklum saja karena dia tumbuh bersama ibu dan nenek yang juga  mengoleksi aneka tas merek terkenal. Ternyata keakrabannya dengan tas perlahan ‘merasuk’ juga ke dalam diri Lidya.

“Saya masih ingat ketika SMP saat sudah mulai bergaya membawa tas Gucci milik ibu saya saat bepergian. Padahal, ketika itu teman-teman sebaya mungkin masih membawa tas remaja pada umumnya.

Waktu itu ibu suka meminjamkan tas koleksinya.  Kalau saya, ibu dan nenek bertiga berkumpul kami akan pasti akan membahas tas dengan seru menjadi materi pembicaraan yang tidak ada habis-habisnya.

Sepertinya saya begitu terobsesi dan menjadi semacam ‘penyakit turunan’  di keluarga saya,” ungkapnya saat ditemui Women’s Obsession.

 IMG_0087WAJIB MENABUNG

Setelah Lidya  mampu mencari uang sendiri, dia jadi begitu senang, karena bisa lebih sering membeli tas kesukaannya.

Dia menambahkan, “Saya biasanya menabung Rp20 juta hingga Rp30 juta setiap bulan agar dapat memperoleh tas baru. Sepertinya saya jadi wajib setiap bulan mendapatkan tas teranyar.

Memang saya akui tas ternyata dapat membuat saya tampil cantik dan percaya diri. Memang harga tas branded itu mahal. Namun, karena faktor itulah menjadi pemicu semangat saya untuk mencari uang lebih banyak.“

Tak heran hingga sekarang Lidya sudah mengoleksi sekitar 50 tas branded terkenal. Sebut saja mulai dari merek: Hermès, Prada, Louis Vuitton, Christian Dior, Celine, Gucci, Valentino, Burberry, Chanel, Balenciaga, Fendi, Moschino, Long Champ, Bonia, Paris Hilton, Guy Laroche, Furla, dan lainnya.

Setiap tas mempunyai cerita sendiri. “Ada tas-tas yang memang mudah mendapatkannya, tetapi ada yang sulit. Kalau ingin mencari tas yang items-nya banyak memang tidak sulit.

Saya hanya perlu mengunjungi butik di Jakarta dan bisa membeli langsung. Butik Gucci di Senayan City dan mal lainnya akan telepon saya kalau ada tas baru.

Saya juga selalu update info beragam produk baru lewat twitter, instagram, dan path berbagai brand untuk mengetahui update koleksi mereka,” kata perempuan berusia 24 tahun ini ramah.

Namun, Lidya bercerita ada juga kesulitannya, yaitu kalau item tas yang dicarinya tidak masuk ke Indonesia. Tak kehabisan akal, kadang dia menitip kepada teman-temannya yang sedang business trip atau traveling khusus membeli berbagai tas.

“Kadang saya juga menitip kekasih saya saat dia ada perjalanan bisnis ke Eropa. Namun, kadang saya pergi sendiri untuk membelinya.

Ada beberapa tas yang saya beli di Paris. Kebetulan saya suka travelling, jadi sekalian memburu tas,” tambah perempuan yang masih berkuliah di semester akhir jurusan Public Relations di Universitas Al Azhar Indonesia.

“Saya beruntung kegemaran ini didukung keluarga sejak dahulu. Kalau saya, ibu dan nenek sedang di rumah, kami bisa berbagi beragam info seputar tas. Tak jarang saya mendapat tas dari ibu dan nenek saya. Sekarang  saya tambah senang, karena kekasih saya juga mendukung hobi saya,” kata Lidya yang memiliki bisnis online, showroom mobil dan motor, dan juga marketing sebuah hotel di Bali ini. Aryani Indrastati | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Juli 2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here