Yeni Atengena Sebayang: Terpikat Kain Tenun Indonesia

Kain apapun saya suka, khususnya tenun buatan tangan. Hingga sekarang saya mengoleksi lebih dari 50 lembar tenun kebanyakan songket Bali dan Palembang.”

 Sejak kecil Yeni Atengena Sebayang selalu semangat, ketika membantu ibunya mengenakan kain tradisional untuk beragam acara. Dia begitu terkagum-kagum dengan warna tenun.

“Waktu itu saya juga meminta ibu untuk memakaikan kain dan kebayanya ke saya. Walaupun ukurannya besar, saya senang bisa mengenakannya dan begitu senang saat berlenggak-lenggok di depan kaca,” jelas  Yeni membuka percakapan.

 Dia pun selalu semangat bila diajak ibu melihat-lihat koleksi kainnya. Matanya seakan tak berkedip  ketika menatap lembar demi lembar kain yang memamerkan motif dan permainan warna berbeda satu sama lain.

“Dalam pikiran saya, kain-kain ini seolah tengah menyapa dan bercerita mengenai suatu kisah. Ada kain yang mengajak saya melihat ragam flora dan fauna suatu daerah dan  ada juga cerita mengenai  nilai kehidupan yang diungkapkan lewat warna-warni kain,”  lanjutnya.

Tak hanya itu, Yeni teringat sewaktu SMP dia  menyimpan sehelai kain batik yang sudah diwiron.

Dia menambahkan, “Waktu itu saya terpikir untuk mengenakan batik tersebut di acara pernikahan. Meskipun, ketika dewasa saya tidak memakainya, karena akhirnya menggunakan busana lain. Namun, yang pasti saya menyenangi kain -kain itu sejak kecil.”

Ketika study tour ke Bali di masa SMA, dia membeli kain untuk dirinya dan ibu. “Maklum saat itu saya belum mempunyai banyak uang.

Tetapi, ketika itu bisa dibilang aneh, karena teman-teman yang lain justru banyak membeli beragam brand fashion Bali. Saya malah membeli kain,” katanya.

Kecintaannya pada kain kian bertambah ketika dia lulus kuliah dan bekerja. Yeni pun merasa bebas dan senang, karena dapat membeli kain sendiri. Apalagi, dia menyukai traveling, tak jarang saat berjalan-jalan dia selalu menambah koleksi kainnya.

IMG_0735IMG_0727

SARAT MAKNA

Yeni mengakui menyukai semua jenis kain. Dia melanjutkan, “Kain apapun saya suka, namun saya lebih menyimpan tenun buatan tangan atau hand woven.

Hingga sekarang saya mengoleksi lebih dari 50 lembar tenun, kebanyakan Songket Bali dan Palembang. Karena ada beberapa songket yang ringan dan nyaman saat dikenakan,  ada juga kain yang dijadikan busana untuk acara tertentu.

Saya bangga mengenakan kain-kain cantik ini,” katanya seraya tersenyum.

Dia mengkhususkan koleksinya pada tenunan tangan, karena lebih halus, natural, dan eksklusif. “

Saya tidak pernah mempunyai budget khusus. Hanya saya memang perlu mempersiapkan planning  untuk traveling bersama suami dan anak-anak saat ingin mencari tenun.

Saya menyukai kain dari daerah Timur Indonesia. Saat ini, masih banyak yang ingin dicari, seperti tenun Toraja dan Papua. Saya dan keluarga belum ada kesempatan pergi bersama ke sana,” tambahnya.

Dia menambahkan, “Pengalaman yang paling berkesan adalah sewaktu menemukan kain tenun motif Boti di Kupang, NTT. Saya berkesempatan mengunjungi desa Boti yang memerlukan waktu lima jam dari Kupang.

Meskipun, jalannya terjal tetapi saya senang bisa mengunjunginya, karena di sana masih asri dan masyarakatnya pun ramah. Saya takjub saat disambut hangat oleh penduduk setempat. Saya bahkan diajari menenun.”

Yeni mengatakan harga untuk membeli kain-kain tenun koleksinya berkisar mulai dari Rp 500ribu hingga Rp 9juta.

“Saya rasa harga demikian tidak mahal, mengingat proses menjadi selembar kain tenun begitu panjang. Ini menjadi cara apreasiasi saya terhadap kain tenun dan agak prihatin kalau ada yang bilang mahal.

Padahal, banyak fashion items merek tertentu jauh lebih mahal, tetapi tidak masalah untuk dibeli. Namun, mengapa berpikir berbeda ketika kita membeli selembar tenun,” ungkapnya sedikit menyayangkan.

IMG_0751IMG_0750

 

PEDULI PENENUN

Siapa sangka, di tengah keasyikannya ‘berburu’ kain-kain tradisional, dia mendapat banyak pelajaran hidup yang sangat berkesan. Sekaligus, mengubah  sudut pandangnya sebagai  seorang perempuan Indonesia.

Ternyata dalam selembar kain tenun dia belajar banyak hal. “Berkat tangan-tangan lembut perempuan daerah ini, benang ditenun dan dipintal sendiri. Dengan tekun dan penuh kesabaran, mereka menguntai benang satu demi satu, hingga menjadi selembar kain yang tak hanya cantik, tapi juga sarat nilai budaya,” paparnya bersemangat.

Mereka kuat sekali menenun di tengah kesibukan mengurus keluarga dan keperluan rumah. Kain-kain ini merupakan cermin kelembutan, sekaligus kekuatan mereka. Belakangan ini saya berkunjung ke daerah-daerah di bagian Timur Indonesia dan semakin terpesona dengan keindahan kain yang ditemuinya.

“Setiap daerah menawarkan pesona berbeda melalui motif dan warna yang mewakil budaya  setempat. Tak hanya berinteraksi dengan lembaran kain, saya juga berusaha berbincang-bincang bersama para pembuatnya. Jadi, saya tahu berbagai masalah yang mereka hadapi,” katanya.

Beberapa kendala adalah lokasi yang sangat jauh dan keterbatasan jumlah produksi.  “Menjangkau wilayah Indonesia Timur memang tidaklah mudah, khususnya dari Jakarta.

Saya sendiri perlu menempuh jarak yang sangat jauh dan memakan waktu lama untuk bisa mendatangi mereka, sehingga sulit dalam hal pendistribusiannya.

Selain itu, kebanyakan para penenunnya tergolong pengusaha kecil atau rumahan,” jelas Yeni.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here