AVILIANI | Komisaris Cinta Mengajar

Aviliani

“Saya sangat menikmati pekerjaan ini dan melakukannya dengan ikhlas tidak ada pakai emosi atau memiliki misi maupun tujuan khusus.”

Perempuan bernama Aviliani ini bisa dibilang memiliki kehidupan yang tak se-simple namanya. Aktivitasnya begitu beragam diisi dengan berbagai kegiatan sesuai dengan passion dirinya.

Dari pengamat ekonomi, dosen di STIE Perbanas dan berbagai instansi lainnya, ekonom INDEF, menjadi sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) yang dibentuk mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga menjadi komisaris independen Bank Mandiri. Dalam dunia akademisi, lulusan S3 dari IPB jurusan Manajemen Bisnis ini pun sebentar lagi akan menjadi seorang profesor.

Saat membuka perbincangan dengan Women’s Obsession, dia mengaku sebenarnya bukan termasuk orang yang ambisius, tapi lebih menjalani kehidupan dengan easy going dan membiarkan semuanya mengalir apa adanya.

Namun, berkat keuletan dirinya, apa yang dicita-citakan bisa tercapai dan kesuksesan ‘menghampiri’ dirinya.

Dia berkata, “Saya sangat menikmati pekerjaan ini dan melakukannya dengan ikhlas tidak ada pakai emosi atau memiliki misi maupun tujuan khusus. Semua saya lakukan seperti hobi saja, sehingga terasa tidak seperti bekerja.

Misalnya, saya sering keluar kota menjadi dosen tamu, sebenarnya melelahkan. Namun, saya jalani saja dengan gembira dan mencoba bisa tidur di pesawat. Lalu, kalau kebetulan daerahnya memiliki pantai indah saya mencoba menyempatkan diri untuk snorkeling dan berenang.”

Aviliani pun cenderung memiliki ekpsresi yang datar dan tidak berlebihan. Memang dirinya jadi tidak terlihat ekspresif. Tapi, baginya ini lebih baik daripada memiliki perasaan yang terlalu senang atau sedih, karena sikap tersebut berdampak tidak bagus bagi kesehatan emosi seseorang.dalam ok. IMG_7699 copy

 

Pekerjaannya menjadi Komisaris Independen pada bank pemerintah sudah dijalani selama 11 tahun. Sebelum di Bank Mandiri, dia sempat menempati posisi sebagai Komisaris Independen Bank BRI selama sembilan tahun.

Pekerjaan mewakili pemegang saham publik di bank besar yang sudah go public ini menjadi tantangan tersendiri. Jika bank sebelumnya lebih terfokus pada usaha mikro kecil, kini di Bank Mandiri lebih mengarah ke korporasi.

“Profesi ini penting, karena jika tidak ada komisaris independen, saat terjadi sesuatu masalah, publik sebagai pemegang saham akan meminta pertanggung jawaban kepada siapa? Jadi, pekerjaan saya lebih ke arah memonitor dan mengawasi jalannya perusahaan. Memberi nasihat kepada manajemen maupun direksi kalau ada yang ada sesuatu yang tidak benar dan memastikan Good Corporate Governance atau GCG sudah berjalan dengan baik. Agar jangan sampai orang-orang yang sudah beli saham bank Mandiri dirugikan, karena tidak update info. Kalau ada informasi-infomasi yang tidak diungkapkan ke publik, tim saya bisanya akan selalu mengingatkan,” tambahnya penuh perhatian.

 

PERNAH HAMPIR DROPOUT

Masa kecilnya penuh dengan tempaan, karena orangtua bercerai di usia lima tahun. Dia tinggal bersama tantenya dan lebih banyak mengambil keputusan sendiri sejak kecil.

“Saya sempat menyesali kenapa kehidupan berjalan seperti ini. Setelah terjadi perubahan hidup, baru disadari saya tidak akan sesukses sekarang dan ‘tahan banting’, kalau tidak mengalami cobaan tersebut.

Setiap orang akan mengalami masa-masa tidak menyenangkan, hanya saja semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tidak ada sesuatu yang langsung berhasil dan menyenangkan, semuanya diperlukan usaha, doa, dan kepintaran untuk meraih kesuksesan,” ungkap perempuan kelahiran Malang, 14 Desember ini serius.

Aviliani sempat di masa kuliah dulu hampir drop out, karena kekurangan uang sebesar Rp200.000 untuk biaya pendidikannya, meskipun dia sudah mencoba bekerja sambil kuliah.

Lalu, salah satu dosennya berusaha mencarikan orang tua asuh yang bisa menolongnya. Ternyata lewat bantuan dana sebesar Rp200.000 dia bisa berhasil ‘jadi orang’. Itulah yang memotivasi dirinya tertarik untuk menjadi orang tua asuh dan berbuat hal yang sama. Tak hanya secara pribadi, dia juga mencoba melalui jalur organisasi, agar lebih banyak orang yang bisa ditolong. Elly Simanjuntak | Fikar Azmy

 

Untuk mendapatkan artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Maret 2016

 

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here