Inti N. Subagio | Be a Good Recovering Partner

Founder FAN Campus

 

Bukan perilaku yang bijak bila kita menilai buruk, mengasingkan, dan mencap orang tersebut memilih terpuruk untuk selamanya. That’s not fair. Ada tanggung jawab kita bersama untuk mengulurkan tangan dan merangkul mereka ke jalan yang benar.

Percaya setiap orang memiliki nilai-nilai kebaikan dan berhak memperbaiki diri, perempuan bernama lengkap Inti Nusantari Subagio ini lalu tergerak untuk mendirikan lembaga rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba, FAN (For All Nations) Campus pada tahun 1998. Dia memegang teguh prinsip bahwa setiap penyalahguna narkoba layak mendapatkan rehabilitasi, bimbingan, dan diberi kesempatan kedua di tengah masyarakat.

Belum banyak perempuan yang serius menggeluti aksi sosial rehabilitasi penyalahguna narkoba. Mengingat ini bukanlah kegiatan yang mudah dan berakhir dalam waktu yang singkat.

Butuh waktu, kesabaran, metode, sekaligus kecerdasan sosial yang luas untuk merangkul korban penyalahguna narkoba dan keluarganya. Ditambah pula, stereotipe para pemakai adalah kaum minoritas, terpinggirkan, dan perusak generasi penerus masih melekat hingga sekarang.

Inti, sapaan akrabnya, memiliki sudut pandang berbeda tentang kondisi tersebut. Dia menilai ketergantungan bukanlah aib dan wajib membantu sesama yang sedang kesusahan.

“Sebagai manusia, kita pasti pernah melakukan kesalahan atau kelalaian dalam bentuk apapun. Bukan perilaku yang bijak bila kita menilai buruk, mengasingkan, dan mencap orang tersebut memilih terpuruk untuk selamanya. That’s not fair. Ada tanggung jawab kita bersama untuk mengulurkan tangan dan merangkul mereka ke jalan yang benar. Masalah penyalahgunaan narkoba bukan persoalan fisik semata, melainkan lebih sebagai problem keseimbangan antara biologis, psikologis, emosi, spiritual, dan sosial,” urai perempuan kelahiran 30 September 1949 ini serius.

Berbekal rasa tanggung jawab tersebut, ibu tiga anak tersebut mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk memutus rantai kematian generasi muda. Inti menambahkan, “Bila kita membiarkan para pecandu narkoba, bandar maupun pengedar narkoba akan semakin merajalela dan berkuasa di sini. Secara tidak langsung, kita tidak menjaga kelangsungan hidup generasi penerus bangsa,” sambung perempuan yang menjabat staf ahli BNN di tahun 2005-2009 ini.

 

DUKUNGAN MASYARAKAT
“Selain rehabilitasi, proses setelah pemulihan sama pentingnya untuk korban penyalahgunaan narkoba. Situasi ini berperan besar untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka saat kembali ke tengah masyarakat. Hindari prasangka dan komentar buruk tentang masa lalu yang telah dilaluinya,” jelas perempuan yang menyukai hidangan sushi ini.

“Di tahun 90-an, saya masih ingat mayoritas korban penyalahguna narkoba berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Tetapi, sekarang sudah berkembang hingga ke anak usia sekolah dasar dan kelas ekonomi bawah. Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan bila masyarakat tidak peduli dan tak mendukung pemutusan jaringan kelam tersebut. Mulailah menjaga lingkungan sekitar. Jangan lengah sedikit pun,” tutur perempuan ayu yang menjabat sebagai Founder & President Director FAN Campus ini dengan bersemangat.

Kekhawatirannya pun terbukti. Pasien termuda FAN Campus datang dari anak usia sekolah dasar. “

Kami membuka diri kepada siapa pun. Tidak membeda-bedakan dari kalangan, suku, maupun agama tertentu. Dukungan dan penerimaan masyarakat besar pengaruhnya bagi mereka. Bahkan, kami pernah menerima pasien yang sama untuk kedua kalinya, karena masyarakat memandang rendah terhadap apa yang telah dilaluinya. Sebegitu hebatkah kita, hingga tidak memaafkan dan memberi kesempatan kedua bagi orang yang mau memperbaiki diri?” tutupnya. Silvy Riana Putri/ Fikar Azmy & Dok. Fan Campus

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi November 2015

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here