ROSLINA SITUMEANG | Bekerja dengan Bahagia

“Penetrasi pasar ke seluruh Indonesia, sampai ke pulau-pulau kecil di kawasan Indonesia Timur bisa terjangkau, berkat kekuatan online.”

Berkarier di industri yang berbeda-beda membuat perempuan bernama lengkap Roslina Situmeang ini selalu bersemangat dalam bekerja. Berbagai perusahaan sudah dijalaninya, dari public relations agency Ogilvy & Mather maupun Time International, yaitu agen jam tangan mewah di Indonesia seperti Cartier, Piaget, Rolex, dan lainya.

Selain itu, dia juga pernah berkarier menangani brand Bang & Olufsen, Paris Hilton, dan perhiasan Bvlgary. Sampai kini tak terasa dia sudah lebih dari tiga tahun bergabung di PT Orindo Alam Ayu, sebagai brand and communication director, produk kosmetik natural asal Swedia, Oriflame.

Dengan prinsip hidup kita pantas mendapatkan kebahagiaan diri sendiri, Ina berusaha dalam bekerja maupun kehidupan di luar pekerjaan, dia tak mau terseret dalam suasana stres yang mendalam.

Dia berkata, “Paling penting kita sudah berusaha sungguh-sungguh dan menjalankan yang terbaik dan tak lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Nanti kalau stres terus cepat tua, ya. Hidup harus dinikmati dan try to find our happiness.”

IMG_1485 Edit

BERUSAHA MENJADI NOMOR SATU
Tak terasa hampir 30 tahun sudah keberadaan Oriflame di Tanah Air. Berangkat dari nol di tahun 1986, hingga sekarang ini berhasil menjadi perusahaan kosmetik direct selling nomor satu di Indonesia–berdasarkan berbagai macam survei.

Lalu, dari sisi penjualan dan dilihat dari pasar global, Indonesia mendapat tempat nomor dua di dunia setelah Rusia. Paling banyak cabangnya adalah di Jakarta ada 14, sementara lainya tersebar di Medan, Pekanbaru, Makasar, Manado, Bali, dan sebagainya.

“Di Bali sendiri pertumbuhannya luar biasa, apalagi di sana dalam berdandan bisa all out dengan pakaian yang lebih bebas. Memang sudah tradisi orang Indonesia senang berdandan. Baik saat ke kantor, berpakaian batik, kebaya, dan busana daerah lainnya.

Nuansa warnanya pun cenderung berani, sehingga bisa bereksplorasi dengan makeup yang lebih maksimal,” lanjutnya seraya tersenyum. Sementara, culture-nya orang Eropa, dandanan mereka lebih sederhana dan simple.

Gaya rambutnya juga tidak macam-macam, malah kadang dikuncir biasa saja. Lalu, variasi lipstiknya cenderung tidak berganti-ganti. Karakternya memang berbeda dengan perempuan Asia yang hobi ber-makeup dan berganti-ganti style rambut.

Dia berpendapat, “Sementara, dalam dari situasi krisis sekarang ini, dampak yang terjadi adalah para konsultan kami lebih menahan pembelian. Tapi, tidak terlalu signifikan, karena harga produk kami tidak terlalu kompetitif, yaitu dari Rp35.000 sampai yang paling mahal Rp600.000.

Market-nya di Indonesia memang sedang sangat berkembang dan membesar, khususnya untuk kalangan menengah ke atas. Merekalah yang memiliki buying power dan pasar ini yang sedang kita garap.”

Menurutnya, mereka juga sudah senang dengan social media dan kita sendiri kuat di Facebook maupun Instagram, karena perusahaan memang mendukung promosi di sini. Apalagi, konsultan Oriflame sebagian besar sudah dekat dengan dunia online.

Itulah sebabnya, penetrasi pasar ke seluruh Indonesia, sampai ke pulau-pulau kecil di kawasan Indonesia Timur bisa terjangkau, berkat kekuatan online. Sampai akhirnya dari sisi sales bisa meraih rangking satu di Indonesia dan nomor dua di dunia.

“Keberhasilan kami didukung oleh orang Indonesia memiliki sifat kekeluargaan, tak heran jumlah teman di facebook bisa mencapai angka sampai 1000 atau bahkan 2000.

Sementara, di Amerika bisa mencapai 500 saja, itu sudah banyak sekali. Sementara pertemanan hingga 100 orang untuk orang Swedia sudah masuk dalam kategori banyak,” lanjutnya.

Perusahaan yang berpusat di Swedia sejak 1967 ini sekarang mulai melirik potensi Asia. Dengan Swedish nature product-nya, budaya yang dibawa bersifat glocal, artinya produk boleh global, namun disesuaikan dengan market masing-masing.

Oriflame pun tak perlu takut, kalau produknya tidak diterima oleh jenis kulit Asia. Secara garis besar produk yang disebar dalam skala global 80% bisa dibilang sama, tapi tentu saja untuk negara Eropa kategori skincare-nya tidak diarahkan ke brightening atau whitening yang lebih cocok untuk pasar Asia. Namun, kawasan tersebut lebih ditonjolkan ke produk tanningElly Simanjuntak/ Fikar Azmy

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here