Body Image Temptation

“Belakangan ini, Aisya selalu menolak kalau saya ajak makan malam. Alasannya kenyang. Tapi setelah didesak, dia mengaku tidak mau makan malam supaya tidak gemuk. Pantas saja, sekarang dia rajin menimbang badan di kamar mandi kami setiap kali habis makan. Padahal, dia tidak gemuk,” cerita ibu tentang putrinya yang berusia 13 tahun.

 

Setiap orang di dunia ini, termasuk anak kita, memiliki persepsi masing-masing tentang penampilan fisiknya. Ada yang merasa gemuk, kurus, kurang putih kulitnya,  dan lainnya. Persepsi ini diistilahkan sebagai body image. Lebih jelasnya body image adalah persepsi seseorang tentang penampilan fisik dan pembawaan dirinya, dibandingkan orang lain. Persepsi ini mungkin berbeda dengan body image yang obyektif atau kondisi nyata. Contohnya, bisa saja seorang anak menganggap tubuhnya terlalu gemuk, padahal berat badannya masih ideal dari kacamata kesehatan dan pandangan orang lain.

 

10
Body image bisa berdampak positif ataupun negatif. Anak yang memiliki body image positif cenderung tidak merasa ada masalah dengan penampilan fisiknya, sehingga tumbuh menjadi remaja percaya diri. Kondisi sebaliknya terjadi pada anak dengan body image negatif. Selain ada masalah kurang percaya diri, bisa juga mengarah ke gangguan makan seperti bulimia (dengan sengaja memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakan) atau anorexia (sengaja berlapar-lapar, tidak makan apapun).
Ketika anak memasuki usia pubertas, biasanya mulai di usia 10-11 tahun untuk perempuan dan usia 11-12 tahun bagi laki-laki, mereka menjadi lebih detail dengan penampilan fisik. Kondisi ini wajar terjadi karena memang terjadi perubahan fisik akibat pengaruh hormon pertumbuhan yang bekerja pesat. Penampilan fisik pun menjadi hal yang krusial bagi anak saat itu. Mereka lebih mengutamakan hal itu dibandingkan hal lain. Bahkan, sampai berpengaruh pada self-esteem atau seberapa tinggi mereka menilai diri sendiri. Self-esteem mulai menurun di usia 11 tahun, hingga mencapai titik terendah di usia 13 tahun (Rosenberg, 1986).
Di rentang usia pubertas ini, mereka membutuhkan penerimaan dari lingkungan tentang dirinya secara menyeluruh. Mereka juga membutuhkan dukungan untuk mengembangkan diri sesuai dengan minat dan bakat. Alihkan pemikiran mereka untuk tidak hanya berfokus pada penampilan fisik, tetapi juga pengembangan potensi diri. Dengan demikian mereka terpacu untuk mencoba hal baru dan  mengembangkan potensi diri. Setelah itu, berikan apresiasi terhadap apapun yang dicapai dengan usaha terbaik mereka.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Oktober 2016

 

 

vera-i-hadiwidjojo

Rubrik ini diasuh oleh Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi.

Lulus dengan gelar sebagai psikolog pada tahun 2001 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ibu dari dua orang anak ini langsung memfokuskan diri pada psikologi anak & remaja. Berpraktek di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (021-3145078) dan Rumah Anak Mandiri Depok (021-97797110). Vera juga aktif sebagai psikolog di beberapa sekolah di area Jabodetabek, menjadi narasumber untuk media cetak dan elektronik, menjadi pembicara seminar/talkshow, maupun pakar untuk produk mainan Mattel Fisher-Price.

 

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here