Bukan Jasa Laundry

Portrait of teacher helping her busy students in art class

Sekolah bukan pabrik ataupun jasa laundry.Bukan pula tempat di mana kita cukup mengantar anak, lalu menjemputnya kembali dalam keadaan ‘beres’.

 

 

18591660_l

“Anak saya, kok, belum bisa membaca, padahal sudah sekolah?”

“Kok, belum bisa bicara bahasa Inggris?! Sudah mahal-mahal saya masukkan ke sekolah internasional…”

 “Bagaimana ini? Kemampuan akademis anak saya kalah jauh, dibandingkan anak di sekolah lain yang biasa-biasa saja?”

 

 

 

Ungkapan kesal, marah atau protes seperti di atas tidak jarang terlontar dari para orang tua kepada pihak sekolah. Sebagai konselor di beberapa sekolah, saya turut menjadi saksi  kegelisahan mereka. Dengan memasukkan anak-anak ke sekolah tertentu, pasti melekat pula harapan-harapan tersendiri yang ingin dicapai. Namun sayangnya, terkadang impiannya terlalu besar, sehingga melupakan esensi dari sekolah itu sendiri.

 

Apa sebenarnya makna sekolah? Kalau mau dilihat secara luas sebenarnya kehidupan sendiri merupakan ‘sekolah’ terbaik bagi anak dan kita sebagai orang tua. Tinggal dipenggal-penggal bagian dari kehidupan ini dan lalu dinamai sesuai dengan karakteristiknya. Ada bagian yang namanya sekolah, sebuah badan formal yang menyediakan lingkungan belajar yang lebih terstruktur dibandingkan belajar di rumah.

 

Amat disayangkan jika orang tua hanya memandang sekolah sepenuhnya bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak mereka. Sekolah bukan pabrik ataupun jasa laundry. Bukan pula tempat di mana kita cukup mengantar anak, lalu menjemputnya kembali dalam keadaan ‘beres’.

 

Tentu sebagai orangtua kita punya harapan dengan menyekolahkan anak di sekolah pilihan. Ini tidak salah. Namun kita tidak bisa menyerahkannya bulat-bulat pada sekolah. Jika seperti ini bisa berbahaya dan orangtua bisa banyak merugi, karena sekolah belum bisa mencakupi seluruh aspek pertumbuhan anak. Orang tua yang tetap memegang kendali bagaimana pendidikan anak semestinya berjalan. Sekolah, les tambahan, dan lainnya merupakan rekan bagi orang tua untuk memperkaya pengetahuan anak. Sebagus apapun sekolahnya jika tidak didukung oleh orangtua maka hasilnya tetap tidak maksimal.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Mei 2016

 

Vera I Hadiwidjojo

 

Rubrik ini diasuh oleh Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi.

Lulus dengan gelar sebagai psikolog pada tahun 2001 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ibu dari dua orang anak ini langsung memfokuskan diri pada psikologi anak & remaja. Berpraktek di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (021-3145078) dan Rumah Anak Mandiri Depok (021-97797110). Vera juga aktif sebagai psikolog di beberapa sekolah di area Jabodetabek, menjadi narasumber untuk media cetak dan elektronik, menjadi pembicara seminar/talkshow, maupun pakar untuk produk mainan Mattel Fisher-Price.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here