Karina Soerbakti | Carry on The Legacy

Dengan semangat muda sebagai generasi kedua Lorena Group, Karina membekali diri untuk berkarya sekaligus menjaga nama besar perusahaan yang telah dibangun keluarganya sejak 47 tahun silam.

 

Kediaman keluarga yang megah berwarna putih dikelilingi asrinya hijau pepohonan menjadi lokasi pertemuan Women’s Obsession dengan si bungsu dari klan Soerbakti. Keramahan dan suara khas Karina Soerbakti menyambut hangat kedatangan kami.

Sebenarnya, kami datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan untuk mempersiapkan segala keperluan. Ternyata, dia pun sudah berpenampilan rapi. “Saya selalu bersiap lebih awal untuk pertemuan apapun, baik bisnis, rapat internal, maupun wawancara. Langkah tersebut merupakan salah satu cara untuk mendalami topik pertemuan ataupun orang yang akan ditemui,” dia mengawali sapaan diikuti senyuman.

Dengan rendah hati, dia menuturkan tugasnya belum bisa menyamai dedikasi ayah dan kakaknya, Eka Sari Lorena selama ini. Namun di balik itu, terlihat karakter kuat untuk menjaga prestasi cemerlang perusahaan keluarga dalam bidang yang dikuasainya, yaitu komunikasi. Sebelum menjabat posisi Public Relations Director PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, dia telah ditempa sikap kemandirian selama menempuh pendidikan di Melbourne.


Sebelum menyelami kehidupan Karina yang sekarang, menarik kita ikuti kilas balik masa kanak-kanak dan remajanya. “Waktu kecil, saya bercita-cita menjadi atlet renang. Saya ikut training sejak usia enam tahun. Latihan dari pukul 4 pagi, bersekolah, kemudian latihan kembali usai sekolah. Aktif juga mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON),” kenangnya.

Namun, dia memutuskan untuk tidak meneruskan karier renangnya, karena lebih tertarik menekuni pendidikan formal. Tamat dari SMA Jakarta Internasional School, dia menempuh pendidikan S1 dan S2 media communications di Monash University Melbourne, Australia.

Pada masa pendidikan tersebut, dia meningkatkan kemampuan diri. “Ketika mengurusi segala keperluan hidup secara mandiri di apartemen, saya belajar taking care of myself,” akunya. Dia berterima kasih kepada sang ayah yang telah mengirimnya bersekolah keluar negeri.

“Ayah dan ibu saya adalah sosok pekerja keras, disiplin. Mereka mengajarkan kami bila ingin bermimpi, buatlah mimpi yang besar. Dengan demikian, kami akan mengerahkan kemampuan dan ketahanan diri secara all out. Kemandirian salah satu bekal yang saya dapatkan selama di Melbourne,” sambung perempuan yang senang merias dirinya. Silvy Riana Putri | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2017

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here