Cash, Important (too)!

A woman holds Indonesian rupiah notes at money changer in Jakarta, March 23, 2015. Indonesia's finance minister said on Monday he will work with the central bank to strengthen the rupiah, which hit a near 17-year low against the dollar last week. REUTERS/Beawiharta

Salah satu komponen terpenting untuk memiliki pondasi perencanaan keuangan yang kokoh adalah memiliki sejumlah dana cash yang cukup.

Tidak perlu memiliki pengetahuan yang tinggi untuk melakukan implementasi menabung di bank atau menyiapkan cash bila sewaktu-waktu dapat dicairkan.

Tidak jarang, saya dan tim dari Janus ID bertemu dengan individu dari berbagai kalangan yang memiliki dana darurat berjumlah minim ataupun tidak memiliki sama sekali. Ada dua kemungkinan kenapa itu terjadi.

Pertama, mereka adalah orang-orang yang memiliki gaya hidup konsumtif, sehingga tidak memiliki aset cash sama sekali. Jikapun mereka memiliki, jenisnya adalah aset konsumtif ataupun warisan dari orang tua.

Dan, kedua adalah orang-orang yang lebih memilih menempatkan dananya di produk pasar modal, properti, ataupun bisnis. Mereka juga beranggapan menyimpan dana di tabungan ataupun deposito tidak memberikan hasil signifikan.

 

 

Peran cash sangat penting bagi kesehatan keuangan seseorang. Kita juga sudah sering mendengar nasihat tersebut. Tetapi kenapa menyimpan cash sangat tidak mudah dilakukan?

Bagi individu yang sangat konsumtif, mudah sekali tergoda untuk menggunakan cash yang ada di tabungan.

Secara psikologi pun, ketika kita mengetahui masih ada dana di tabungan, maka keputusan untuk membelanjakannya lebih mudah. “Ah tidak apa-apa pakai sedikit, dana di tabungan masih banyak” atau “Ah tidak apa pakai dulu uangnya, nanti akan diganti lagi.”

Realitanya, jika terus menggunakan dana di tabungan, jumlah uang yang dimiliki akan terus berkurang dan belum tentu Anda berkomitmen menggantinya dengan berbagai alasan seperti masih banyak pengeluaran dan lain sebagainya.

Awali memisahkan rekening untuk pengeluaran harian dengan rekening untuk darurat. Itu langkah yang baik. Selanjutnya adalah kemampuan kita mengendalikan diri untuk tidak menggunakan tabungan tersebut.

Setiap orang memiliki caranya tersendiri sesuai dengan kenyamanan. Ada yang memilih rekening bank tidak memiliki banyak ATM, dan ada yang memang sengaja tidak memberikan ATM khusus rekening dana darurat.

Lalu, ada pula yang meminta pasangannya untuk mengendalikan keuangan, atau ada yang menempatkan dana daruratnya hanya 10-20% saja di tabungan dan sisanya di deposito dan logam mulia agar tidak mudah terakses cepat.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi April 2017

 

Rubrik ini diasuh oleh Farah Dini Novita, BA (Hons), RFA, CFP

img_07361

 

Perempuan lulusan The University of Nottingham, Malaysia ini adalah Vice CEO dan senior konsultan keuangan independen Janus Financial, perusahaan yang bergerak di bidang perencanaan keuangan individu dan bisnis.

Farah memiliki misi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam merencanakan keuangan sejak dini.

Dia juga mempunyai blog khusus perencanaan keuangan dari 2010, www.fin-chick-up.com yang empat tahun kemudian dijadikan sebuah buku berjudul FINCHICKUP: Financial Check Up For Ladies & Finchickup 2.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here