Citra Positif, Bukanlah Pencitraan

Semua aktivitas Public Relations (PR) dilakukan dan diarahkan, agar terbentuk citra positif suatu organisasi. Secara etimologi, citra adalah kesan yang diperoleh sesesorang berdasarkan pengetahuan dan pengertiannya tentang  fakta atau kenyataan.

Citra dapat dilihat melalui sikap yang ditunjukkan seseorang terhadap organisasi atau perusahaan. Pandangan seseorang terhadap individu atau lembaga dapat berubah berdasarkan pembawaan citra yang kurang tepat.

Pakar psikologi sosial, Walter Lippman menyebutkan proses pembentukan citra terhadap organisasi melibatkan empat komponen penting dalam diri, yakni persepsi, kognisi, motivasi, dan sikap.

Lippman menyebut persepsi dengan istilah picture in our head. Kognisi adalah keyakinan diri terhadap stimulus-stimulus. Keyakinan akan timbul apabila individu telah mengerti rangsangan tersebut, sehingga harus diberikan informasi-informasi yang cukup dan dapat mempengaruhi perkembangan kognisinya.

 

Dalam konteks kerja PR, sangat penting untuk mengetahui apa dan bagaimana komponen yang terkait proses pembentukan citra. Hasilnya pun beragam yaitu pendapat, tanggapan, atau perilaku tertentu hanya bisa dipahami melalui suatu penelitian. Pembentukan citra dikelompokkan ke dalam empat jenis, yaitu

The Mirror Image: Citra perusahaan yang diyakini oleh manajemen terhadap organisasinya.

The Current Image: Citra perusahaan yang diyakini publik berdasarkan pengalaman dan pemahamannya terhadap organisasi.

The Wish Image: Citra yang ingin dicapai oleh manajemen melalui produk

The Corporate Image: Berkaitan dengan bagaimana citra positif perusahaan lebih dikenal dan diterima oleh publik.

Tugas pembentukan citra tidak melulu berada di pundak seseorang atau tim PR. Semua elemen yang berada di dalam organisasi tersebut adalah PR bagi tempat bernaungnya. Setiap individu dianjurkan membekali diri dengan keempat komponen yang selaras dengan ruh organisasi atau perusahaannya sekarang ini.

Hal tersebut baik untuk mencegah ketimpangan citra antara PR yang andal dengan individu yang kurang mengembangkan diri. Jangan pula salah artikan pembentukan citra positif dengan pencitraan yang bersifat narsistik atau hanya berpusat memuji saja.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi September 2017

 

Rubrik ini diasuh oleh Prita Kemal Gani MBA, MCIPR, APR

Memasuki tahun ke-27 berkarier di dunia kehumasan Indonesia, Ketua ASEAN Public Relations Network dan Pemilik & Direktur LSPR Jakarta ini tetap setia membagikan ilmu dan pengalamannya tanpa henti.
Berbagai penghargaan dalam maupun luar negeri telah disematkan kepadanya, antara lain terpilih menjadi satu-satunya perempuan dari Indonesia yang mendapatkan pembinaan Entrepreneurial Winning Women TM dari Ernst & Young pada tahun 2015 bersama tiga belas perempuan terpilih lainnya dari Asia Pasifik.

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here