Dampak Negatif Lembur

8932577_l

Mengejar target untuk menyelesaikan pekerjaan tenggat waktu waktu alias deadline menjadi alasan utama kenapa seseorang harus bekerja full time dan lembur. Banyak orang akhirnya menggunakan cara-cara tertentu untuk tetap awas, misalnya mengonsumsi banyak kafein. Padahal, itu bukan cara menghilangkan lelah, namun hanya bersifat untuk memompa semangat sementara waktu. Memang akan jadi sebuah dilema. Mengingat kesehatan adalah kebutuhan dan pekerjaan juga hal yang penting, maka jawaban yang tepat adalah pekerjaan selesai hidup tetap sehat.

 

 

Bagaimana untuk mencapai hal tersebut? Dikupas dari berbagai sumber jurnal kesehatan, satu hal yang harus diperhatikan ketika harus berjibaku dengan pekerjaan di saat deadline adalah usahakan melakukannya sesekali di saat mendesak saja. Karena jika hampir setiap hari, tentu ada risiko kesehatan. Mungkin kita masih ingat, belum lama ini publik Indonesia dihebohkan dengan berita meninggalnya seorang pekerja kreatif setelah bekerja nonstop selama 30 jam. Tentu, kita berharap itu adalah peristiwa terakhir. Ini adalah beberapa alasan mengapa kerja lembur sebaiknya tidak menjadi rutinitas harian.

 

Studi terbaru menunjukkan bahwa orang yang rutin bekerja lembur lebih rentan depresi, karena jam kerja panjang, sementara itu waktu untuk keluarga dan diri sendiri menjadi pendek.

Jika pekerjaaan kita mengharuskan lebih banyak duduk dalam waktu yang lama, maka sadarilah bahwa gaya hidup tersebut berbahaya bagi kesehatan. Hasil penelitian dari University of Missouri, orang yang terlalu banyak duduk, meskipun mereka meluangkan waktu berolahraga, tetap beresiko tinggi menderita penyakit kronis seperti diabetes atau perlemakan liver.

Sebuah penelitian menunjukkan orang yang bekerja lembur cenderung memiliki kualitas tidur rendah. Dampak dari kurang tidur sendiri sudah cukup banyak didokumentasikan, antara lain berkurangnya konsentrasi, kenaikan berat badan, mudah marah, penyakit kardiovaskular, dan masih banyak lagi.

Studi pada tahun 2010 menyebutkan, orang yang bekerja 10 jam atau lebih setiap hari berisiko tinggi menderita penyakit kardiovaskular seperti hipertensi atau serangan jantung.

 

Dollarphotoclub_61991673

Pakar dari Mayo Clinic, Rochester Amerika Serikat, seperempat orang yang disurvei menyebutkan bahwa pekerjaan merupakan pemicu stres dalam hidup mereka. Bayangkan jika terjadi secara nonstop dalam waktu yang lama?

Bagi kita yang bekerja di depan komputer, menatap layar komputer sepanjang hari merupakan penyebab utama ketegangan mata.

Penelitian yang dipublikasikan tahun 2009 menunjukkan bahwa mereka yang workaholic di usia muda lebih beresiko menderita demensia saat menginjak usia tua. Studi yang dipublikasikan dalam The American Journal of Epidemiology itu menemukan, karyawan yang bekerja lebih dari 55 jam dalam seminggu mengalami masalah dengan daya ingat, daya nalar, dan kosa kata. Masalah-masalah tersebut bahkan semakin parah seiring dengan terus bertambahnya jumlah jam kerja mereka.

Menurut sejumlah studi, kerja lembur dan kebiasaan makan tidak teratur memicu banyak gangguan pencernaan seperti sakit perut, mual, diare, konstipasi, dan heartburn. Ini umumnya disebabkan kurangnya konsumsi air. Umumnya bekerja dilakukan 8 sampai 9 jam setiap per hari. Namun, untuk mencapai target tertentu, tak sedikit orang cenderung untuk memilih bekerja lembur. Padahal, bukannya tidak mungkin, kerja lembur mengharuskan mereka untuk memaksakan diri secara fisik dan mental.

Dalam American Journal of Epidemiology menunjukkan, bekerja lembur meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 80 persen. Studi tersebut menemukan, jika dilakukan secara signifikan rentan menderita serangan jantung dan stroke.

Saat orang bekerja lembur, mereka mengabaikan pentingnya mendapat tidur dengan kualitas dan kuantitas yang cukup. Dengan begitu, risiko insomnia mereka pun meningkat. Insomnia merupakan gangguan sulit untuk memulai dan menjaga tidur.

Kerja lembur juga dapat menurunkan kadar leptin dalam tubuh. Leptin merupakan hormon yang memegang peranan penting untuk mengontrol nafsu makan.

Khususnya pada pria, bekerja lembur juga diketahui memicu banyak gangguan yang berhubungan dengan kesuburan, seperti kemandulan, disfungsi ereksi, menurunnya jumlah sperma, dan menurunnya gairah seksual. Hal tersebut berhubungan dengan kecanduan stimulan yang kerap dialami pekerja lembur. Sahrudi / Istimewa

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here