DIAN SISWARINI | The Untold Story (Part 1)

Dian-Siswarini
Dian-Siswarini

Prinsipnya dalam bekerja adalah tidak boleh menolak berbagai jenis tantangan apapun.

Dunia kerja yang dominan dengan para lelaki, kini semakin menjadi tantangan menarik bagi kaum perempuan untuk digeluti. Kesejajaran gender maupun kesempatan perempuan untuk berprestasi yang telah diperjuangkan RA Kartini bisa diteruskan dan terwujud secara nyata.

Begitupun dengan seorang Dian Siswarini yang tertarik mendalami bidang telekomunikasi, karena selalu berkembang, dinamis, dan cepat berubah. Itulah sebabnya, dia memutuskan untuk fokus pada bidang ini, setelah lulus dari Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1991, bekerja sebagai engineer di bidang satelite communication di PT Citra Sari Makmur (CSM).

Dia tak peduli ketika mengawali kariernya,  industri telekomunikasi belum maju dan masih jauh tertinggal, dibandingkan negara-negara lain.  Dian kemudian pindah ke PT Satelindo dan bergabung ke XL  saat masih di bawah naungan PT Excelcomindo sebagai radio engineer.

Dia menerangkan, “Di XL saya merasakan suasana seperti rumah, sehingga betah terus berkarier di sini. Setahun bergabung saya diangkat menjadi manager network design & engineering. Kerja keras dan passion membuat saya akhirnya bisa menjabat sebagai vice president network pada 2005 dan director network pada tahun 2007.

Lalu, diberi amanah memegang jabatan direktur digital services di departemen content and new business pada tahun 2012.  Dua tahun kemudian di-challenge untuk bekerja di induk usaha XL yaitu Axiata Group Berhad di Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai group chief of marketing and operation officer.”

Prinsipnya dalam bekerja  adalah tidak boleh menolak berbagai jenis tantangan apapun. Seperti saat dia ditantang untuk mengambil executive program di Harvard Advance Management Program, Harvard Business School, Amerika Serikat pada 2013.

“Keberhasilan saya menerima tantangan tersebut dan pengalaman 20 tahun berkarier di dunia ini, alhamdulillah, membuat saya dipercaya sebagai CEO PT XL Axiata per 1 April 2015. Setelah per Januari 2015 saya ditetapkan sebagai deputy CEO melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT XL Axiata,” lanjutnya.

Ibu yang telah memiliki tiga anak ini berkata, “Saya dulu keluar dari CSM dan masuk ke Satelindo, karena menikah dengan bos saya. Lalu, karena posisi kantor jauh dari rumah dan lokasi XL saat itu lebih dekat serta tidak macet, saya  pun tertarik bekerja di sana.

Jadi, berkarier di XL awalnya bukanlah  cita-citanya. Saya melihat perusahaan selular baru masuk di Indonesia dan percaya suatu saat pasti akan booming. Jadi, pilihan saya memang tepat dan saya masuk di saat yang pas pula. Ini semua saya anggap sebagai pertolongan tangan Tuhan.

 

RENCANA STRATEGIS 2016

Persaingan di antara operator untuk memberikan layanan telekomunikasi yang semakin cepat dan berkualitas menjadi kian ketat. XL meyakini bahwa trend permintaan data di tahun 2016  akan meningkat. Mengiringi implementasi layanan 4G LTE yang telah dimulai secara komersial sejak akhir tahun 2015.

Untuk mengatasi tantangan kondisi usaha dan meraih peluang pertumbuhan di tahun ini, XL akan terus mengimplementasikan Strategi 3R sebagai bagian dari agenda transformasi menuju model bisnis yang menjamin pertumbuhan berkualitas dalam jangka panjang.

Termasuk melakukan pengembangan 4G LTE, XL akan gencar memperluas layanan internet cepat 4G LTE dengan jangkauan ke 80 kota di seluruh Indonesia pada akhir 2016, meningkat dari 35 kota pada akhir 2015.

Pengembangan jaringan 4G LTE tersebut dibarengi dengan pemasaran paket HotRod 4G yang menawarkan kuota  data 4G dengan worry-free experience. Pelanggan dengan 4G LTE smartphone dapat mengakses internet dengan high-speed dengan nyaman dan harganya pun terjangkau. Elly SimanjuntakFikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi April 2016

 

Dian Siswarini: The Untold Story (Part 2)

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here