Hari Ibu| dr Enrina Diah

Dedikasi Penyayang Keluarga

 

Haryeni Muzief. Dialah perempuan yang melahirkan Enrina Diah beserta keempat saudaranya. Ketika berbincang tentang ibu selalu mengundang keharuan. Sama halnya dengan Enrina yang mengartikan sosok ibu sebagai wanita yang mendedikasikan hidupnya untuk keluarga.

“Saya dan Alyssa Vania Asrinadiva, putri sematang wayang yang biasa disapa Caca merasakan peran mama dalam setiap perjalanan hidup kami. Selain menunaikan baktinya mendampingi papa, beliau ikut mengasuh Caca ketika saya menjalani pendidikan spesialis kedokteran. Menemani saya dengan pelukan dan senyuman hangat nan menenangkan, ketika gelombang rumah tangga menerpa,” lirih perempuan kelahiran 23 Mei 1974 ini dengan mata berkaca-kaca.

 

img_2390

Kehangatan dan kasih sayang mama tiada duanya. Beliau selalu mendedikasikan waktu untuk mendampingi kami berlima dalam kondisi apapun hingga sekarang.

Haryeni Muzief. Dialah perempuan yang melahirkan Enrina Diah beserta keempat saudaranya. Ketika berbincang tentang ibu selalu mengundang keharuan. Sama halnya dengan Enrina yang mengartikan sosok ibu sebagai wanita yang mendedikasikan hidupnya untuk keluarga.

“Saya dan Alyssa Vania Asrinadiva, putri sematang wayang yang biasa disapa Caca merasakan peran mama dalam setiap perjalanan hidup kami. Selain menunaikan baktinya mendampingi papa, beliau ikut mengasuh Caca ketika saya menjalani pendidikan spesialis kedokteran. Menemani saya dengan pelukan dan senyuman hangat nan menenangkan, ketika gelombang rumah tangga menerpa,” lirih perempuan kelahiran 23 Mei 1974 ini dengan mata berkaca-kaca.

img_4153

Saat mengenang masa kecil, Enrina mengisahkan ibunya adalah penyeimbang sosok ayah di keluarga. “Mama lebih tegas, strict, dan menanamkan pentingnya etika keseharian. Sedikit banyak dipengaruhi oleh pola asuh gaya Belanda sewaktu mama kecil dahulu. Kami diajarkan etika saat berada di meja makan, berbicara, bersikap di depan umum, hingga menjamu tamu. Alhamdulillah, pengalaman tersebut menjadi bekal berharga di kala dewasa,” kenang penggemar hidangan sushi ini.

Selain menanamkan etika keseharian, juga ditumbuhkan nilai kemandirian. Enrina menambahkan, “Apapun kegiatan atau tugas harus dapat diupayakan oleh kami sendiri. Dengan demikian, kami dapat memahami kekurangan maupun kelebihan masing-masing. Nilai tersebut melandasi kemandirian saya, agar tidak bergantung kepada orang lain dan pantang menyerah dengan tantangan.” Silvy Riana Putri | Dok. Pribadi

 

Untuk mendapatkan artikel selengkapanya, dapatkan Women’s Obsession edisi Desember 2016

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here