dr Olivia Ong | Beautiful Transformation

 

Dokter estetika bukanlah profesi yang kaku. Kami seperti seniman. Keunikan dan pesona setiap pasien ditunjukkan secara utuh.

 

dr. Olivia Ong, dipl. AAAM lebih senang dikenal sebagai pemilik klinik estetika, bukan klinik kecantikan. “Keindahan itu dimiliki setiap manusia. Tanpa memandang gender dan usia. Dengan keilmuan dan kecanggihan teknologi, kami membantu setiap pasien untuk menjaga keindahan pemberian Tuhan,” buka Olivia di awal pertemuan.

Menapak tilas perjalanan karier Olivia, dia merupakan salah satu dokter kecantikan non bedah unggulan di Indonesia. Dia membuka klinik dengan label namanya pada tahun 2008. Treatment yang ditawarkan adalah botulinum toxin (botox), soft tissue filler (filler), kulit, dan pelangsingan tubuh dengan injeksi.

Seiring berjalannya waktu, praktik Olivia bertransformasi dengan nama Jakarta Aesthetic Clinic (JAC) pada pertengahan 2015. Nama baru juga diikuti dengan penambahan treatment menyeluruh untuk wajah, kulit, tubuh hingga rambut, dengan kelengkapan peralatan teknologi paling mutakhir di dunia kedokteran.

Pertengahan tahun 2016, Olivia dan tim kembali bertransformasi. Mereka hijrah ke lokasi klinik baru yang lebih luas di kawasan Gunawarman untuk menyesuaikan kebutuhan lebih dari 5.000 pasien. Nikmati keseruan Women’s Obsession berbincang dengan dokter lulusan Universitas Atma Jaya dan The American Academy of Aesthetic Medicine di Malaysia.

Keindahan Tak Mengenal Gender

“Sebenarnya tanpa disadari kebutuhan akan keindahan itu bukan hanya milik perempuan. Coba kita lihat di sekitar, para wanita yang memiliki wajah dan bentuk tubuh prima lebih percaya diri dan senang dilihat orang banyak.

Sementara pria lebih percaya diri dan aktif berkegiatan saat kondisi fisik dan pesona maskulinnya terjaga. Bahkan, remaja saat ini yang gemar ber-selfie dan wefie selalu menyempatkan waktu memilih foto dengan tampilan terbaik sebelum diunggah ke media sosial,” tutur satu-satunya dokter Indonesia yang mempresentasikan teknik penyuntikan filler pada bagian hidung dan dagu di hadapan dokter se-Asia Pasifik pada International Master Course on Aging Skin Asia 2015.

Olivia pun mencermati grafik pasien pria yang terus meningkat setiap tahunnya. “Di awal klinik berdiri, pasien pria hanya 10% dari total pasien. Dalam perjalanannya, persentase pasien pria saat ini sudah di angka 30%.

Dan yang menyenangkan, jumlah pasien pria dewasa untuk pengencangan tubuh dan perut ramping meningkat dari 9% menjadi 40%. Keindahan sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi gaya hidup untuk kalangan tertentu,” tuturnya. Silvy Riana Putri | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Oktober 2016

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here