Hadiah untuk Ibadah: Boleh atau Tidak?

4240493-gift

 

Pada anak, persentase motivasi yang datang dari luar dirinya masih dominan. Perilaku anak masih bergantung kepada hal-hal yang bisa dinikmati lewat alat indra.

 

“Asyik…, aku dapat robot-robotan kalau puasa penuh!,” sorak anak usia 7 tahun di sebuah resto ketika berbuka puasa. Bisa jadi si anak super semangat dalam menjalankan ibadah puasa karena motivasi hadiah. Salahkah kita sebagai orang tua, jika memberikan hadiah untuk ibadah?

 

Jika kita bicara soal ibadah pada anak, pastilah kita menerangkan ibadah apa saja yang harus  dilakukan sesuai agama yang dianut masing-masing. Setelah itu, langkah selanjutnya adalah bagaimana kita memotivasi mereka agar rutin melakukan tanpa diingatkan atau dipaksa terlebih dahulu. Kalau kita bertanya kepada diri sendiri, mengapa saya beribadah? Berbagai jawaban muncul dalam pikiran kita antara lain karena kewajiban, supaya dapat pahala, sudah jadi kebutuhan, dan masih banyak lainya lagi. Tentunya alasan-alasan tersebut yang juga ingin ditanamkan kepada anak.

 

Menurut Piaget, seorang pakar perkembangan kognitif anak ternama, anak-anak baru mulai mampu memahami hal-hal yang abstrak seperti pahala, surga, dosa, dan sejenisnya, di tahapan usia memasuki masa remaja atau paling tidak 11 tahun ke atas. Sebelum itu, mereka masih kesulitan untuk memahami hal yang abstrak dan mudah memahami hal-hal konkrit, seperti sesuatu yang bisa disentuh dan nyata bentuknya. Berdasarkan hal ini, akan sulit bagi kita untuk mengharapkan anak melakukan ibadah karena sebagai tabungan di akhir nanti.

 

Jika bicara soal hadiah, kita tidak bisa terlepas dari apa yang disebut motivasi. Ada dua  motivasi, yaitu intrinsik/internal dan ekstrinsik/eksternal. Motivasi intrinsik adalah keinginan atau dorongan untuk melakukan sesuatu demi kepuasan diri sendiri. Contoh, seseorang yang ingin kuliah sampai S3 semata, karena ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dia mampu. Sementara, motivasi ekstrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu, karena ada capaian yang dapat dinikmati secara riil. Contohnya, seseorang yang ingin kuliah sampai S3 agar mendapatkan jabatan yang lebih baik di kantor.

 

Pada anak, persentase motivasi yang datang dari luar dirinya masih dominan. Perilaku anak masih bergantung kepada hal-hal yang bisa dinikmati lewat alat indra. Menurut pakar perkembangan anak Albert Bandura, seorang anak belajar perilaku yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan melalui pengamatan orang-orang di sekitar. Selain ibadah sudah menjadi rutinitas hidup kita, tunjukkanlah rewarding experience usai beribadah bersama. Misalnya, tersenyumlah atau bicara dengan lembut setelah beribadah. “Wah, kamu pasti bangga sama diri sendiri, karena sudah bisa puasa seminggu penuh. Hebat anak mama!” Atau ungkapkan, “Tenang rasanya kalau habis berdoa, bisa tidur nyenyak.” Satu hal yang perlu kita ingat bahwa anak lebih mudah memahami sesuatu ketika kondisi senang. Sama halnya dengan orang dewasa. Jadi, lakukanlah dengan cara-cara yang menyenangkan, seperti buku-buku cerita atau film yang menarik.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Juni 2016

 

Vera I Hadiwidjojo

Rubrik ini diasuh oleh Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi.

Lulus dengan gelar sebagai psikolog pada tahun 2001 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ibu dari dua orang anak ini langsung memfokuskan diri pada psikologi anak & remaja. Berpraktek di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (021-3145078) dan Rumah Anak Mandiri Depok (021-97797110). Vera juga aktif sebagai psikolog di beberapa sekolah di area Jabodetabek, menjadi narasumber untuk media cetak dan elektronik, menjadi pembicara seminar/talkshow, maupun pakar untuk produk mainan Mattel Fisher-Price.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here