Hantu pun “Dijual”

Paling sedikit ada lima perusahaan wisata yang menawarkan tur ke tempat-tempat angker di Philadelphia. Biayanya berkisar antara US$15-50 untuk satu tempat.

 

Hal-hal yang berbau supranatural masih menjadi magnet bagi banyak orang di dunia. Tak terkecuali di negara super modern seperti Amerika Serikat sekalipun. Pernah, di tahun 2010, ada lembaga survei di AS, Zogby Interactive, mengurai fakta bahwa sebanyak 37% responden percaya adanya hantu berbentuk manusia atau hewan. Bahkan 23% responden mengaku pernah dikunjungi kerabat atau teman yang telah meninggal. Sementara, sebanyak 20% responden mengaku pernah melihat atau mendengar suara hantu, walaupun tak dijelaskan seperti apa bentuknya. Demikian hasil jajak pendapat lewat internet yang melibatkan 2100 responden dewasa, dengan marjin kesalahan kurang lebih 2,2 persen.

 

Tanpa survei ini, sebenarnya publik juga sudah mahfum kalau soal mistik masih menjadi perhatian di AS. Tengok saja kesuksesan film The Conjuring menempati posisi di daftar film horor terlaris dengan pendapatan mencapai US$137 juta. Adapula Paranormal Activity  yang menjadi film paling menguntungkan berdasarkan return on investmentIrawan Nugroho dari Washington DC, mengungkap hal menarik tentang dunia paranormal tersebut. Meskipun suasananya menyeramkan, kadang ada juga cerita yang bisa membuat kita sedikit tersenyum.

PHILADELPHIA CITY HALL

Kita mulai dari Philadelphia. Kota sejarah kemerdekaan AS yang dibangun pada 1682 ini menyimpan segudang cerita hantu yang menjadi salah satu daya tarik kota. Misalnya, Betsy Ross House, Bishop White House, Library Hall, City Tavern, House in the Hollow atau Powell House. Dan paling sedikit ada lima perusahaan wisata yang menawarkan tur ke tempat-tempat angker ini. Biayanya berkisar antara US$15-50 untuk satu tempat.

 

bishop white house 4 _0

 

Tapi, ada cerita misteri di AS yang berkaitan dengan Indonesia. Ceritanya, di tahun 1988, ada salah seorang tokoh keraton yang mengantarkan berobat keluarganya di Washington. Dia menginap di hotel yang persis berhadapan dengan kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), sebuah gedung tua yang dibangun tahun 1900. Lokasinya di kawasan Dupont Circle, tepatnya di 2020 Massachusetts Avenue. Berjarak hanya 1,5 km dari Gedung Putih. Saat tengah malam, dari jendela kamar hotelnya sang  istri raja itu melihat keluar dan terlihat banyak tamu sedang berpesta di dalam KBRI. Sang permaisuri membatin, “Saya ini istri raja, tapi mengapa tidak  diundang pesta di KBRI?”

Esok harinya, si permaisuri bertanya kepada penjaga malam/resepsionis KBRI, mengapa ada pesta dia tidak diundang. Dengan santainya dia menjawab “Saya sendirian semalam Bu, sepi-sepi saja tidak ada pesta apa-apa.” Dia pun ikut terkejut. Rupanya istri raja ini hanya melihat penampakan para “penghuni” gedung KBRI yang memang hobinya suka iseng menggoda para tamu yang datang ke gedung tua. Naskah: Irawan Nugroho & Sahrudi | Foto: Istimewa

 

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Maret 2016

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here