HENNY SANTOSO | Peduli Anak HIV Positif

Henny Santoso

Selain berbisnis, Henny pun berusaha meluangkan waktunya dengan sang putri untuk peduli terhadap sesama lewat Yayasan Vina Smart Era. Pemiliknya adalah seorang bidan bernama Ropina S Tarigan–biasa dipanggil Vina–yang mempunyai hati untuk mengurus anak-anak terjangkit HIV positif.

Untuk membantu yayasan tersebut mendapatkan kelanjutan dana operasional, dia berinisiatif untuk mengadakan ‘Charity Dinner: Let’s Do Great Thing! Humanizing HIV’ di Hotel Grand Hyatt Jakarta pada 10 Maret 2017.

Untuk menambah semarak, acara ini akan dihibur dengan tampilan Music Chamber yang menyuguhkan lagu-lagu dari berbagai daerah yang telah diaransemen ulang. Kemudian, ada juga fashion show dan lelang busana karya desainer Priyo Octaviano yang hasilnya akan disumbangkan untuk Yayasan Vina Smart Era.

0S4A8938

“Sebetulnya ini adalah proyeknya Hillary yang sudah empat tahun terlibat dalam kegiatan sosial tersebut. Mereka adalah anak-anak penderita HIV yang berasal dari kalangan tidak mampu, sehingga memang perlu ditolong.

Sebulan sekali setiap hari minggu, putri saya rajin membantu membagikan obat-obat gratis kepada mereka. Ibu Vina yang memperkenalkan Hillary ke lapangan untuk langsung berinteraksi dengan anak-anak tersebut, makan, dan menonton film bersama, tanpa ada rasa takut” paparnya.

Henny melihat anaknya memang melakukan kegiatan tersebut dengan sepenuh hati. Seperti mencari data, melakukan riset, dan kampanye mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa penderita HIV sebaiknya tidak dikucilkan maupun dibiarkan tidak melakukan apapun.

Penyakit ini tidak menular dengan mudah seperti flu, cacar, atau demam berdarah dan mereka bisa bertahan hidup lebih lama dengan bantuan obat-obatan. Kita sebenarnya tak perlu takut dan bisa bebas bercengkrama dengan mereka. Karena penularan HIV hanya lewat jarum suntik, darah, dan melalui hubungan seksual.

Dia menambahkan, “Juni tahun lalu kampanye yang dilakukan Hillary telah difilmkan dan masuk ke YouTube. Awalnya, saya belum mengerti mengapa diberi judul Pills Aren’t Enough.

Para penderita HIV sebenarnya mampu beraktivitas, berkarier, dan meraih kesuksesan, asalkan mereka rajin minum obat sehari dua kali secara rutin seumur hidup.

Sehingga, kekebalan tubuh tetap terjaga dan dapat melakukan kegiatan apa saja, seperti manusia normal lainnya. Namun, obat saja ternyata tidak cukup untuk membuat mereka tetap hidup dan tidak down.”

Akhirnya, Henny mengerti mengapa judul filmnya Pills Aren’t Enough. Lingkungan, keluarga, dan komunitas sebaiknya mesti menerima mereka apa adanya serta tidak menganggap mereka sebagai pesakitan.

Tak berhenti hanya di film, sebagai lanjutannya, dia bersama Hillary tergugah untuk mengadakan kegiatan penggalangan dana, agar dukungan terhadap anak-anak penderita HIV bisa terus berkelanjutan ke depannya.

Dia pun berterima kasih kepada Vina yang telah membuka mata anaknya, bisa berempati terhadap sesama dan tidak menjadi anak tunggal yang egois hanya memikirkan diri sendiri.

Henny memaparkan, “Sebagai rasa syukur saya berusaha membantu sebisa mungkin dengan mengerahkan network saya lewat acara Charity Dinner. Paling tidak biaya operasional selama setahun masih bisa ter-cover.

Sekaligus memberikan awareness kepada para tamu tentang perkembangan penyakit HIV, termasuk bagaimana cara terbaik menghadapi dan menerima mereka dengan tangan terbuka.” Elly Simanjuntak | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Maret 2017

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here