Jennifer Lopez | Selebritas Multitasking yang Menerjang Sekat Ras

J-LODi usia 17, Jennifer Lopez (44) mengungkap cita-citanya yang terdalam kepada orang tuanya: menjadi aktris terkenal. Seketika, orang tua Jennifer yang adalah imigran Puerto Rico di Bronx, New York, menyebut mimpi itu sebagai ide bodoh. Di masa itu, tidak ada wanita Latin yang sukses di dunia hiburan Amerika. Namun, Jennifer muda bersikeras tetap memegang mimpinya. Ia meninggalkan rumah orang tuanya, pindah ke Manhattan, dan memulai kariernya sebagai penyanyi dan penari latar.

Kini, dua dasawarsa kemudian, Forbes menyebut Jennifer sebagai artis paling berpengaruh di dunia. Penulis The Afro-Latin Reader: History and Culture in the United States (2009), Miriam Jiménez Román, menyebut wanita itu telah meruntuhkan pembatas ras menuju gemerlap Hollywood. Sementara Sean Redmond dalam Stardom and Celebrity (2007) menyebut bahwa  peran Jennifer mengubah kelas sosial dan budaya Amerika.

“Kami (warga Latin) punya kekuatan dan berpengaruh. Kami bukan cuma orang-orang di belakang layar yang bekerja di dapur atau memperbaiki saluran air,” ungkap Jennifer awal 2013 lalu, saat diumumkan menjadi creative officer nuvoTV. Di waktu yang sama, ia meluncurkan telepon genggam bermerek Viva Móvil, yang khusus diperuntukkan bagi warga Latin. Ia bermimpi merevolusi dan mewarnai media Amerika dengan bintang-bintang Latin.

Tekad dan pengaruhnya itu membuat Jennifer, yang kini berusia lebih dari empat dekade, disegani tak hanya sebagai penyanyi-penari dan aktris, tapi juga sebagai selebritas yang sukses menjalankan berbagai peran di ranah berbeda. Bermula dari filmnya, awal tahun 2001, The Wedding Planner, yang keluar bersamaan dengan single-nya, Love Don’t Cost a Thing, membuat Jennifer menjadi aktris sekaligus penyanyi pertama dengan dua karya berbeda yang sama-sama berada di puncak.

Mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam rentang waktu yang sama terus menjadi kekuatan yang membuatnya sulit ditandingi artis-artis yang jauh lebih muda darinya. Ia mampu berperan sebagai pebisnis di berbagai bidang, filantrop, sekaligus agen perubahan. Ia adalah representasi selebritas yang berhasil menjadikan namanya sebagai sebuah merek kuat: J.Lo. Di atas semua kisah tentang kehidupan pribadinya yang tak sempurna, Jennifer terus muncul dengan karya terbarunya. Tak hanya single atau film, atau keduanya di saat bersamaan, tapi juga merilis produk-produknya yang merajai berbagai bisnis.

Tiga kali menikah dan berpisah, kemudian berpacaran dengan mantan penari latarnya, Casper Smart (26) hingga saat ini, membuat Jennifer kerap diidentikkan dengan Elizabeth Taylor. “Saya menikmati sedikit kekacauan dalam hubungan. Itu membuat hidup tidak membosankan. Meski tentu saya ingin kestabilan. Saya hanya ingin dihargai. Jika ada hal yang membuat saya sudah tidak lagi nyaman, saya tidak ingin bertahan dalam situasi itu,” ungkap mantan kekasih Ben Affleck itu.

Namun sesungguhnya, perpisahannya dengan Marc Anthony pada Juli 2011 seakan tak membawa dampak apa pun pada karier dan bisnisnya. Tepat ketika publik mengira karier menyanyinya berakhir, di tahun yang sama, di usia 42, Jennifer muncul dengan single-nya On The Floor, yang dengan cepat berada di posisi teratas tangga lagu dunia. Di tahun yang sama, L’Oreal Paris menjadikan Jennifer sebagai Global Ambassador mereka, bertepatan dengan debutnya sebagai juri American Idol. Pada pertengahan tahun, Jennifer meluncurkan parfum terbarunya, Love and Light, yang terjual 51.000 botol dalam peluncuran perdananya. Di bulan yang sama, Fiat, produsen mobil Italia, menunjuk Jennifer untuk mempromosikan produk terbaru mereka.

Seakan tak pernah istirahat, pada September 2011, Jennifer meluncurkan Jennifer Lopez Collection, lini busana dan aksesori bersama Tommy Hilfiger. Disusul peluncuran the Jennifer Lopez Home Collection yang memproduksi perlengkapan kamar tidur, handuk, dan koper. Setahun setelahnya, ia meluncurkan produk T-shirt premium dengan nama Teeology. Semua terjadi di tahun yang sama saat ia dan Marc mengumumkan berpisah setelah 7 tahun menikah. Di sela tur dan kesibukan aktingnya, Jennifer masih kerap menggelar aksi galang dana yang ia salurkan terutama melalui tiga lembaga favoritnya: the Gloria Wise Boys and Girls Club, the Children’s Hospital of Los Angeles, dan American Red Cross.

Tak hanya itu, penampilan dan aksi panggung Jennifer pun tetap prima setelah melahirkan kembar Maximilian David dan Emme Maribel pada 22 Februari 2008 serta rehat selama 15 bulan. Bahkan, di usia 42, wanita yang juga menjalankan rumah produksi Nuyorican Productions itu dinobatkan majalah People sebagai The Most Beautiful Woman. Jauh sebelum itu, media internasional seperti FHM dan VH1 telah beberapa kali menyebutnya berada di urutan teratas 100 Wanita Terseksi.

“Saya punya tubuh atletis yang saya jaga seumur hidup dengan sangat disiplin. Ada orang yang bisa duduk tenang sambil makan seporsi besar es krim. Tapi saya bukan orang seperti itu,” ungkapnya kepada British Glamour, Maret 2013. Kebugaran tubuhnya terbukti dalam Dance Again World Tour 2012 lalu yang dipuji sebagai aksi yang membuktikan kualitas koreografinya dan meruntuhkan pendapat orang akan kualitas vokalnya yang terbatas.

Kepada People, ia mengungkapkan rahasia sederhana stamina dan penampilannya: dansa diiringi musik Latin! Ia menyebut aktivitas itu sempurna untuk menggerakkan seluruh tubuh, dan lebih efisien dibanding semua sesi fitness. “Menari membuat tubuh langsing, lentur, dan seksi. Tapi, untuk menjaganya  Anda harus berlatih minimal 2 jam tiga kali seminggu,” kata wanita yang juga melakukan jogging 30 menit  tiap pagi ini.

Jennifer tidak menganut pola diet apa pun karena menurutnya hasilnya tidak akan bertahan lama. “Makanlah makanan yang bermanfaat dengan jumlah yang tepat,” ujar Jennifer, yang sudah menari sejak usia 5 tahun. Ikan, daging, buah, serta sayur adalah menu wajibnya  tiap hari. “Saya tidak pernah merokok ataupun mengonsumsi alkohol. Semua terbayar melihat kulit saya yang masih baik,” ungkap Jennifer yang juga menegaskan pentingnya tidur cukup.

Seiring dengan pertambahan usia, ia mengaku sedang berusaha melepaskan obsesinya untuk selalu tampil sempurna. “Saya tidak pernah melakukan operasi plastik atau suntik botox, tapi membuka diri jika nanti saya membutuhkannya,” ungkap wanita yang baru saja merilis album berisi single terbarunya, I Luh Ya PaPi, ini.

Tahun ini, di usianya yang ke-44, wanita yang membawakan lagu resmi Piala Dunia 2014  We Are One (Ole Ola) –bersama Pitbull dan Claudie Leitte– ini masih akan melakukan rangkaian peran gandanya. Antara lain, berperan dalam film thriller, The Boy Next Door, serta membintangi dan memproduseri drama seri televisi NBC, Shades of Blue.