Jessica Febiani | Jatuh Cinta Pada Batik Klasik

Sebagai anak muda saya ditantang untuk menghadirkan busana batik yang tak hanya dipakai ke acara perkawinan atau berbagai upacara adat Jawa saja, tapi juga bisa dikenakan dalam berbagai acara non-formal.

 

Memiliki naluri untuk berbinis dan tidak menjadi seorang karyawan itulah bakat yang ada dalam diri Jessica Febiani sejak muda. Tak heran ketika kuliah di universitas Bina Nusantara, dia sudah terjun menekuni dunia fashion.

Diawali dengan mengeluarkan koleksi modern cocktail dress lewat label Moretosee pada tahun 2006. Seiring bertambahnya usia para pelanggan, dia pun mengalami pergumulan untuk mencari jati diri arah fokus karyanya dan kemudian pada 2010 beralih menciptakan busana batik dengan pilihan kain warna-warna cerah.

Dia bercerita, “Sebagai anak muda saya ditantang untuk menghadirkan busana batik yang tak hanya dipakai ke acara perkawinan atau berbagai upacara adat Jawa saja, tapi juga bisa dikenakan dalam berbagai acara non-formal. Syukurlah saat itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ikut membantu mempopulerkan batik ke masyarakat dan setiap hari Jumat semua karyawan di Tanah Air diminta untuk selalu memakai batik.”

BERPINDAH GAYA
Jessica tertantang untuk melakukan berbagai eksperimen termasuk menggunakan batik teknik air brush atau semprot. Dari batik penuh warna terang, dia kemudian menemukan passion-nya ke batik klasik yang dekat dengan nuansa warna alam, seperti hitam, putih, sogan, cokelat, dan abu-abu.

“Pilihan ini ternyata memang termasuk tepat, batik klasik lebih long lasting dan bisa dipakai ke berbagai kegiatan serta masuk ke segmen segala usia. Saat dipakai ke kantor di pagi hari, lalu di sore hari ada acara pesta, kita tak perlu mengganti busana,” ungkap perempuan yang pernah berkarier di dunia jurnalistik ini sambil tersenyum.

 

Tak hanya memasarkan batiknya di dalam negeri, Jessica juga rajin membawa koleksinya fashion show keliling dunia. Karyanya yang sudah berubah ke batik klasik, nuansa warnanya kebetulan juga pas diterima oleh masyarakat Eropa, Amerika, maupun Timur Tengah. Dia juga bekerjasama dengan berbagai kedutaan besar Indonesia di berbagai negara.

Perempuan kelahiran Bali yang menyenangi seni ini melanjutkan, “Malah kalau boleh berterus-terang penghargaan mereka terhadap karya batik saya lebih besar, daripada orang Indonesia sendiri. Hal tersebut pun membuat saya termotivasi untuk menggerakkan hati masyarakat di dalam negeri, agar lebih perhatian terhadap karya anak bangsa dan semakin bangga menggunakan batik Indonesia.”

Di bulan September nanti dia akan kembali ke Los Angeles untuk memperkenalkan batik koleksi terbarunya dan impiannya adalah membuka toko batik di London. Di dalam negeri sendiri, koleksinya bisa didapatkan di Thamrin City dan The New Playground Lippo Mall Kemang, atau bisa juga melalui reseller-reseller khusus yang membantu pemasaran batiknya.

Tak hanya dipasarkan untuk orang dewasa, kaum muda juga menjadi sasaran bisnisnya, agar mereka tidak hanya memakai busana kebarat-baratan yang selama ini selalu digemari. Elly Simanjuntak | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapanya, dapatkan Women’s Obsession Edisi Juni 2017

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here