Kapan Berbohong, ‘Diperbolehkan?’

Siapakah yang tidak pernah bohong kepada anak? Mungkin hampir semua ibu pernah melakukannya. Bagi mereka yang mampu tidak pernah berbohong sepanjang hidup anaknya, pasti banyak perempuan akan salut dan ‘angkat topi’.

 

2

Apakah saya pernah berbohong kepada anak saya? Tentu, pernah. Ketika anak pertama saya berumur tiga tahun, dia punya film kartun kesayangan yang selalu ditunggu tiap Minggu pagi. Tapi entah kenapa, stasiun TV yang memutar film tersebut kerap kali terlambat memutarnya  atau batal menayangkan. Padahal, anak saya sudah menunggu sesuai jadwal yang diiklankan. Alhasil, dia menangis sambil mengomel. Lucu awalnya, tetapi lama-kelamaan iba dan menimbulkan keributan. Yang bisa menenangkannya, ketika saya berpura-pura menelepon stasiun TV dan menegur, karena terlambat atau batal menayangkan film kesayangan anak saya. Setelah ‘telepon sakti’, anak saya pun kembali ceria dan bermain lagi.

Sebagai orang tua, tentu kita berkeinginan untuk menanamkan hal yang baik-baik kepada buah hati. Namun adakalanya, kita terjepit pada situasi yang seolah memaksa untuk berbohong. Alasan yang acapkali dipakai sebagai alasan berbohong antara lain:

  • Supaya anak lebih mudah mengerti.
  • Takut melukai perasaan anak atau agar anak tidak menjadi sedih.
  • Ada hal-hal yang terlalu rumit untuk dijelaskan.
  • Agar lebih mudah, cepat, dan praktis.
  • Tidak tahu jawabannya jadi berbohong saja.

6

Apa dampaknya terhadap anak? Dalam jangka waktu pendek, memang tidak terlalu kentara. Anak tetap ceria dan bahagia, meski ada kebohongan-kebohongan kecil di sekitarnya. Namun yang perlu diwaspadai risiko-risiko yang mungkin terjadi.

  • Anak adalah peniru ulung. Jadi, ketika dia menyadari bahwa berbohong itu ‘boleh-boleh saja’ karena ibu atau orang di sekitarnya ikut melakukan, maka jangan kaget bila suatu hari nanti dia membohongi Anda atau pada orang lain.
  • Anak yang terlalu sering menerima kebohongan, juga berisiko lebih rentan stres. Mereka terbiasa untuk menjalani kehidupan yang manis dan mulus-mulus saja, sehingga kurang siap terhadap tekanan. Di dalam lingkungan yang riil, dia akan belajar bagaimana mengatasi tekanan, sehingga tumbuh menjadi anak yang tangguh.
  • Anak akan membentuk persepsi yang salah tentang sesuatu/seseorang, akibat kebohongan yang dia terima. Misalnya, berbohong dengan alasan akan ditangkap satpam kalau tidak mau makan, mungkin akan membuatnya takut kepada satpam.
  • Anak akan belajar bahwa dengan berbohong menciptakan konsekuensi atau suasana yang lebih menyenangkan daripada berkata jujur.

Jadi, kapan berbohong ‘diperbolehkan?’

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Maret 2017

 

 

Rubrik ini diasuh oleh Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi.

vera-i-hadiwidjojo

Lulus dengan gelar sebagai psikolog pada tahun 2001 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ibu dari dua orang anak ini langsung memfokuskan diri pada psikologi anak & remaja. Berpraktek di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (021-3145078) dan Rumah Anak Mandiri Depok (021-97797110). Vera juga aktif sebagai psikolog di beberapa sekolah di area Jabodetabek, narasumber untuk media cetak dan elektronik, pembicara seminar/talkshow, maupun pakar untuk produk mainan Mattel Fisher-Price.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here