Srikandi BUMN | Kartini Sally Direktur Bank Mandiri

Cerdas Hadapi Perubahan

Menjabat posisi sebagai Direktur Commercial Banking Mandiri diraihnya dengan melewati berbagai tahapan. Kartini Sally mengawali karier dunia perbankan dari bidang Corporate Banking, sebagai officer bank tahun 1991. Ketika bergabung dengan Bank Mandiri tahun 1998, dia pun menangani bidang yang sama.

“Pada tahun 2006, saya ditugaskan ke Commercial Banking, bidang yang masuk kategori Business Unit sebelum dipindahkan ke Risk Management. Pengalaman dan kompetensi di bidang Corporate Banking dan Commercial Banking sangat membantu tugas di Risk Management dalam menilai suatu proposal atau usaha dari sisi risiko. Hal ini dianggapnya sebagai challenge tersendiri dan dia pun mampu memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Selang enam tahun, pada 2012 Kartini kembali ke bidang Corporate Banking. Dia ditugaskan untuk membawahi dan mengembangkan kantor cabang luar negeri, salah satunya di Shanghai, Cina. Fokusnya pada saat itu mengupayakan agar Bank Mandiri dapat memperoleh Renminbi (RMB) License sehingga dapat bertransaksi dengan mata uang setempat. Dua tahun kemudian, dia menjabat direktur Commercial Banking. Beruntung, dirinya sudah sangat memahami tentang bidang tersebut.

Perubahan itu akan selalu ada, baik dari segi pekerjaan ataupun target. Tetapi, dari sanalah kita bisa mendapatkan hal-hal baru, baik dari tambahan pengalaman, relasi, ilmu, dan yang terpenting kemampuan bernegosisasi baik dengan nasabah, maupun staf.

Harus berpindah-pindah bidang tugas dan keluar dari comfort zone seringkali membuat seseorang merasa kurang nyaman. Demikian halnya dengan Kartini yang mesti beberapa kali pindah tugas dalam berbagai skala bisnis berbeda. Dia menuturkan, “Perubahan itu akan selalu ada, baik dari segi pekerjaan ataupun target. Tetapi, dari sanalah kita bisa mendapatkan pengalaman, relasi, ilmu, dan yang terpenting menambah kemampuan untuk bernegosisasi baik dengan nasabah, maupun staf atau anak buah.”

img_3298

Membawahi karyawan dan staf yang tersebar di seluruh Indonesia, Kartini melakukan upaya khusus mempererat hubungan dengan tim. “Pertama saya harus memberi empowerment kepada tim. Saya percaya kepada mereka tapi tetap harus dilakukan verifikasi. Kami menggunakan tools berupa laporan rutin untuk melihat kinerja. Saya juga mengecek langsung kondisi di lapangan,” ujarnya.

Secara berkala, Kartini melakukan ‘blusukan’ ke kantor-kantor di berbagai wilayah untuk melihat seperti apa tantangan di lapangan. Dia pun membuka sarana komunikasi lewat group chat dengan tim, sehingga segala informasi dapat diterima dengan baik dan cepat. “Terpenting adalah komunikasi yang baik antara anak buah dan atasan. Jika ada masalah harus disampaikan, tetapi juga ada usulan solusinya.” Meskipun menjalin kedekatan layaknya seorang ibu, dia mengungkapkan bahwa pemimpin harus menjaga perilaku dan memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang baik maupun kematangan dalam bertindak agar target tercapai optimal. Angie Diyya | Dok. Pribadi

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Desember 2016

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here