Keunikan Kaligrafi Cina

Seorang calligrapher atau ahli kaligrafi dapat mengontrol ketebalan tinta dengan memvariasikan banyaknya air dan tinta.

          jiaguwenKaligrafi atau seni menulis, bisa jadi merupakan salah satu bentuk seni rupa yang paling bernilai di antara semua tradisi di Cina.  Lukisan dan kaligrafi Cina sepertinya  muncul bersamaan dan menggunakan dua alat yang sama yaitu, kuas dan tinta.  Namun, kaligrafi dipuja sebagai seni yang lebih tua jauh sebelum lukisan. Tingginya status kaligrafi mencerminkan betapa pentingnya ‘kata-kata’ di Cina. Kaligrafi adalah salah satu budaya yang berhasil menunjukkan bagaimana kekuatan sebuah kata.

Dalam sejarah China ada banyak ahli kaligrafi terkenal seperti : Wang Xizhi, Ouyang Xun  Yan Zhenqing, Liu Gongquan, Zhao Mengfu,  dan lainnya. Dengan tekad belajar dan praktik selama bertahun-tahun, mereka masing-masing membentuk gaya dan aliran kaligrafi yang unik sehingga mendorong seni kaligrafi Cina mencapai tingkat yang tinggi.

Kaligrafi tersebut  merupakan huruf Han. Perkembangan kaligrafi Cina seiring dengan perjalanan huruf Han sekarang yang sudah berbeda bentuk dari pertama kali diciptakan. Sejak kemunculannya, huruf ini mengalami beberapa kali penyeragaman, sehingga memiliki bentuk yang sekarang ini.

 PERKEMBANGAN BERTAHAP

4Treasures

Perkembangan huruf dan  kaligrafi Cina dibagi dalam beberapa tahap. Sebagai tahap awal adalah huruf Han. Sebetulnya hingga kini pencipta huruf ini belum ditemukan secara pasti, karena minimnya alat bukti peninggalan kuno. Konon dirancang oleh Cang Jie, seorang ahli sejarah Kaisar Huang  sekitar tahun 2000-3000 SM. Diceritakan dia begitu terkesan pada  bentuk serta guratan jejak telapak kaki binatang yang tercetak di tanah dan pasir. Menurutnya, semua benda dapat digambar sesuai bentuk aslinya.

Gambar inilah yang disebut huruf dan dikenal dengan istilah piktograph. Selain itu,  juga  terdapat huruf yang menggambarkan ide dan disebut sebagai ideograph.  Kedua jenis huruf ini terlihat pada penemuan kulit penyu dan tulang binatang dan disebut dengan jiaguwen atau kulit penyu dan tulang binatang. Diperkirakan sudah ada pada masa Dinasti Shang (1500-1027).

Tahap berikutnya, huruf ditulis pada tembaga sebagai bagian dari upacara sembahyang kepada arwah nenek moyang. Disebut dengan huruf jinwen (huruf di atas tembaga) atau dazhuan (tulisan besar). Sudah dikenal pada masa Dinasti Shang dan dipakai hingga Dinasti Zhou (1027-221 SM). Huruf ini beraneka ragam, karena setiap penulis mempunyai gayanya sendiri.

Perkembangan selanjutnya terlihat  pada masa pemerintahan Kaisar Qin Shi dari Dinasti Qin (221-207 SM). Perdana Menteri Li Si yang bertugas menyeragamkan dazhuan, tulisan besar yang dikenal dengan istilah xiaozhun (tulisan kecil).  Kian lama, huruf xiaozhuan  dirasa kurang praktis, karena tidak dapat dipakai untuk menulis cepat.  Lalu, Cheng Miao berupaya memodifikasi huruf ini, menjadi lishu (tulisan resmi). Cirinya semua garis lengkung huruf xiaczhun diubah menjadi garis lurus dan lingkaran diganti menjadi persegi empat. Cara ini membuat  cara menulis menjadi lebih cepat dan terjadi  kemajuan dalam kaligrafi.

Berikutnya adalah kelahiran kaishu (tulisan tetap)  atau zhenshu (tulisan resmi),   merupakan penyederhanaan huruf lishu. Hingga kini penciptanya belum diketahui, namun diperkirakan eksis sekitar abad pertama. Huruf kaishu hingga sekarang masih digunakan. Ditulis dengan guratan yang jelas antara batas ujung dan pangkalnya. Dari huruf ini juga tercipta dua gaya yang kerap dipakai dalam kaligrafi, yaitu xingshu (tulisan cepat) dan gaya cau-shu (tulisan rumput).

Cara menulis huruf kaishu dengan gaya xingshu dapat dilakukan lebih cepat, karena penyambungan guratan yang ditulis sekaligus. Gaya caoshu memiliki guratan lebih sederhana daripada xingshu, seakan-akan merupakan rangkaian guratan tak teratur, sehingga sulit mengenali huruf yang ditulis.

 BENTUK VISUAL

proccessDi samping peran sentral yang dimainkan oleh kata-kata tertulis dalam budaya tradisional Cina yang membuat bahasa tertulis menjadi khas adalah bentuk visualnya. Belajar membaca dan menulis Cina terbilang sulit,  karena tidak ada abjad atau sistem fonetik. Setiap kata Cina ditulis diwakili oleh simbol unik, semacam diagram abstrak yang dikenal sebagai ‘karakter’, lalu setiap kata harus kita dipelajari secara terpisah melalui proses menulis yang cukup melelahkan.

Kita juga harus menulis ulang sebuah karakter, hingga sanggup  menghafalnya. Untuk membaca koran paling tidak diperlukan  pengetahuan sekitar 3000 karakter, orang yang berpendidikan  rata-rata memiliki sekitar 5000 karakter,  seorang profesor  8000 karakter. Keseluruhannya ada  lebih dari 50 ribu karakter dan sebagian besar tidak pernah digunakan.

Namun keterbatasan bahasa Cina  juga menjadi kekuatannya. Tidak seperti kata-kata tertulis yang terbentuk dari huruf, karakternya menyampaikan lebih dari suara fonetik atau makna semantik. Tulisan tradisional tentang kaligrafi menunjukkan bahwa kata-kata tertulis memainkan peran ganda: tidak hanya karakter menunjukkan makna tertentu, namun dari bentuknya dapat mengungkapkan dirinya untuk menjadi teladan moral, dan berbagai manifestasi dari energi tubuh manusia dan suasana alam.

DOMINASI KUAS

ma           Penggunaan kuas dan tinta menjadi begitu penting dalam menyampaikan sebuah ekspresi. Justru dengan kesederhanaan bisa mendatangkan pengaruh yang begitu kompleks.  Banyaknya efek dihasilkan sebagian oleh berbagai konsistensi dan jumlah tinta yang disapukan kuas.

Seorang calligrapher atau ahli kaligrafi dapat mengontrol ketebalan tinta dengan memvariasikan jumlah air dan tinta. Saat dia mulai menulis, kadang-kadang  dia memuat kuas dengan lebih banyak tinta, atau sedikit, dan membiarkan tinta menipis hingga hampir habis, sebelum dia mencelupkan kuasnya ke tinta lagi. Dia mampu menciptakan ketebalan dan ketipisan sampai hampir habis, sebelum mencelupkan kuas di tinta lagi dan menciptakan berbagai karakter unik.

Kuas  menjadi satu alat  yang memiliki beribu kemungkinan. Berbeda halnya dengan instrumen kaku seperti stylus atau pena ballpoint.  Kuas yang terbuat dari rambut binatang ini begitu  fleksibel. Sangat lentur dan memungkinkan tidak hanya untuk karakter tebal,  tetapi juga tergantung pada apakah seseorang menggunakan ujung atau hanya salah satu sisi kuas. Dan juga berdasarkan kecepatan tangan menuangkan kuasnya, ringan atau beratnya  tekanan yang diberikan pada permukaan menulis, dan seseorang dapat membuat berbagai macam jenis efek.

dex

Kuas menjadi perpanjangan tangan penulis dan tubuhnya. Tapi, gerakan fisik yang dihasilkan dari gerakan kuas bisa mengungkapkan lebih banyak makna. Kuas mengungkapkan lebih banyak ekspresi dari penulisnya, seperti impulsif, menahan diri, keanggunan, maupun pemberontakan. Dalam kaligrafi lebih mudah menyampaikan emosi seorang seniman, dibandingkan seni visual Cina lainnya,  kecuali lukisan landscape, yang erat bersekutu dengan kaligrafi.

Nuansa ekspresif dalam kaligrafi sebenarnya juga merupakan seni pengendalian diri.  Kaligrafi dan penari memiliki banyak kesamaan: masing-masing harus belajar gerakan koreografi dan menjaga ketertiban komposisi. Tapi, begitu aturan telah diamati, masing-masing dapat membebaskan dalam batas-batas tertentu untuk mengekspresikan seni pribadi masing-masing. (Aryani Indrastati/dari berbagai sumber) Foto: Istimewa 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here