KHOFIFAH INDAH PARAWANSA | 100% Penerima PKH adalah Wanita

ADVERTORIAL

 

Kita telah mengetahui catatan karier dan prestasi gemilang alumni pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) ini selama lebih dari dua dekade.

Di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dia terpilih mengomandoi Kementerian Sosial (Kemensos). Memasuki tahun ketiga masa jabatannya, perempuan yang sempat bercita-cita sebagai pembalap motor ini telah mencatatkan perkembangan positif.

Berbagai program unggulan dirintisnya dari pengentasan kemiskinan, pemulangan TKI bermasalah, validasi data warga yang belum terdata, keterbelakangan, dan konflik sosial, hingga merehabilitasi pengguna narkotika.

Di berbagai kesempatan, Khofifah menuturkan salah satu program yang efektif menurunkan jumlah kemiskinan di Indonesia adalah Program Keluarga Harapan (PKH) atau secara internasional disebut Conditional Cash Transfer (CCT) yang telah diterapkan sejak 2012.

PKH adalah program pemberian uang tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) berdasarkan persyaratan dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Nama lainnya adalah Bantuan Tunai Bersyarat. Persyaratan dapat berupa kehadiran di fasilitas pendidikan bagi keluarga dengan anak usia sekolah ataupun fasilitas kesehatan bagi keluarga yang memiliki anak balita atau bagi ibu hamil.

Sebenarnya, lanjut Khofifah, masyarakat yang cerdas dan sehat adalah hasil akhir sebagai tujuan PKH. Itu semua dilakukan demi kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, Khofifah menyasar penerima PKH semuanya perempuan sebagai sosokpondasi setiap keluarga dan tiang negara.

 

Sejahterakan Ibu-ibu melalui PKH

“Pengguna PKH harus mengikuti sejumlah kewajiban begitu mendapat bantuan itu,” kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Kementerian Sosial Harry Hikmat. PKH dicairkan dalam empat tahap per tahun. Dengan cara tersebut, lanjut Harry, keluarga penerima memiliki kesempatan untuk mengatur pemanfaatannya.

“Terutama keperluan pendidikan di luar biaya yang sudah digratiskan sekolah atau bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang hanya satu kali cair,” paparnya. Dia memberikan contoh, dana PKH bisa dipakai untuk membeli buku tulis, seragam, sepatu, dan peralatan lain yang tak digratiskan sekolah. Pola penggunaan sama juga dapat diterapkan untuk bidang kesehatan.

PKH kemudian berkembang membantu orang-orang lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas. Pertimbangannya, keluarga dengan lansia dan penyandang disabilitas menanggung pengeluaran tambahan.

“Tambahan pengeluaran itu bisa mengurangi kesejahteraannya, kalau tidak dibantu oleh pemerintah,” jelas Harry. Dia pun menegaskan, peran PKH maupun program-program lain pemerintah saling mendukung dan menguatkan.

Jumlah dana bantuan pun berjenjang yang diberikan secara bertahap dalam satu tahun. Tujuan PKH adalah untuk mengurangi angka dan memutus rantai kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan mengubah perilaku yang kurang mendukung peningkatan kesejahteraan dari kelompok paling miskin. Keberhasilan program tersebut mempercepat pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs).

Berdasarkan hasil evaluasi Bank Dunia pada 2012 dan 2015, PKH berdampak meningkatkan kunjungan ibu hamil ke fasilitas layanan dasar kesehatan sebesar tujuh persen. Meningkat pula imunisasi lengkap hingga delapan persen dan pemeriksaan kesehatan balita bertambah 22 persen.

Sementara, pengeluaran keluarga untuk makanan berprotein tinggi mencapai 10 persen. Khofifah berharap anak Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH mampu mengangkat derajat keluarga. Dia mengungkapkan, komplementaritas Bansos PKH menyasar dua persoalan besar kemiskinan, yaitu kesehatan dan pendidikan. Harapannya, dengan gelontoran dana PKH tingkat kesehatan dan pendidikan masyarakat semakin terus meningkat.

“Sasaran utamanya anak-anak KPM PKH, sehingga rantai kemiskinan antar generasi bisa diputuskan karena mereka mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga mampu menunjang kehidupan keluarga,” imbuh Khofifah.

Dia menambahkan dengan pendidikan yang cukup seseorang bisa mengakses pekerjaan yang jauh lebih baik dan berdampak besar pada meningkatkan pendapatan keluarga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis awal tahun lalu, anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang bersekolah selama 12,72 tahun, meningkat 0,17 tahun dibandingkan pada 2015.

Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 7,95 tahun, meningkat 0,11 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. “Ini salah satu alasan PKH tahap II dicairkan jelang tahun ajaran baru. Saya berharap kebutuhan anak sekolah bisa terpenuhi, sehingga mereka pun bisa lebih bersemangat untuk sekolah,” tambahnya. Bantuan pendidikan bagi anak-anak keluarga PKH diberikan hingga jenjang SMA/SMK/Sederajat.

Ditekankan pula kepada anak-anak KPM PKH untuk tidak takut menggapai cita-cita. Dia meminta agar mereka tak patah semangat meraih cita-cita dalam kondisi apapun.”Kemiskinan bukan alasan, justru harus menjadi pemacu semangat untuk bisa keluar dari situasi tersebut,” ungkapnya.

Menurut Khofifah, jika ingin anak-anak berhasil, maka keluarga harus memberikan tumpahan kasih sayang dan perlindungan. Sapa anak-anak dengan lembut dan penuh kasih sayang, jangan didik anak dengan kekerasan, hindarkan mereka dari berbagai kekerasan dan eksploitasi.

“Tindak kekerasan bukan cuma secara fisik, tapi juga psikis dan seksual. Apapun alasannya, mari lindungi anak-anak kita, karena ke depan merekalah yang akan mewarisi bangsa ini,” tandasnya.

Setiap kali berkunjung ke daerah, Khofifah sering bertemu dengan anak KPM PKH berprestasi, baik di bidang olahraga, kesenian, sains, akademik, dan lain sebagainya. Tidak hanya di level nasional, namun juga hingga internasional.

Baru-baru ini, dia bertemu salah satu anak penerima PKH di Cirebon, Dewinta Putri Fazriani yang berhasil mendapatkan beasiswa Bidik Misi dan masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sebelumnya, dia juga bertemu Ahmad Zuhri mahasiswa asal Demak yang berprestasi di ajang kontes robotik internasional di Amerika Serikat.

”Saya yakin mereka semua bisa berprestasi. Semua kembali pada bagaimana kita mengarahkan dan mendorong mereka agar dapat lebih mengembangkan minatnya,” tukasnya.

Untaian Hati Anak Penerima PKH

Lahir dari keluarga tidak mampu, terbukti bukan alasan untuk jauh dari prestasi dan harapan. Setidaknya berkaca dari kisah anak dari keluarga penerima bantuan PKH di Gresik ini.

Berikut petikan percakapan telekonferensi Khofifah dengan Galuh saat di Cina pada 2016 silam. “Halo Galuh, apa kabar?” Sedang musim apa di sana?” sapa Khofifah mengawali perbincangan.

Galuh adalah salah satu anak dari keluarga penerima PKH. Khofifah pun tak menutupi rasa bangganya pada pencapaian Galuh. “Ibu Galuh adalah salah satu peserta PKH. Karena anaknya dibimbing dengan baik, dia bisa berhasil mendapat beasiswa ke Cina,” untai Khofifah.

Ada pula kisah Syalom. “Saya ketika ujian targetnya harus jadi juara satu, karena ingat orangtua juga, dan kadang kecewa kalau tidak dapat juara satu,” jelasnya.

Dia juga pernah mengalami nilai merosot, akibat ikut berbagai kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Kini, dia tinggal menunggu hasil kelulusan untuk melanjutkan pendidikannya.

“Saya mau masuk SMK Keperawatan, supaya nanti bisa jadi perawat,” kata kakak dari dua adik ini. Di dalam keluarga dia jarang terlihat belajar, namun ternyata dia aktif di sekolah.

“Buku tabungan saya berikan kepada ibu, takut saya habiskan,” ujarnya. Syalom tak hanya berprestasi, tapi juga aktif di berbagai kegiatan sekolah, seperti OSIS dan ekskul lainnya.

Mendapatkan bantuan PKH merupakan sebuah harapan untuknya meraih cita-cita, lantaran kedua orangtuanya berpenghasilan tidak tetap. Sang ibu sebagai tenaga kontrak sementara ayahnya bekerja serabutan. Mereka juga kini tinggal menjaga kantor Lurah Liningaan. Vyranputri | Dokumentasi Humas Kementerian Sosial RI

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here