KHOFIFAH INDAR PARAWANSA | Sungkan Diistimewakan

Baru-baru ini, Women’s Obsession menikmati kesempatan eksklusif sehari bersama Menteri Sosial Republik Indonesia Kabinet Kerja periode 2014-2019, Khofifah Indar Parawansa. Kami mengikuti kesehariannya di kampung halaman tercinta, Surabaya.

Ibu empat anak ini aktif menunaikan amanah-amanah masyarakat Indonesia yang dipercayakan kepadanya. Derap langkah perempuan kelahiran 19 Mei 1965 ini terbilang gesit dan bertenaga. Seperti itu pula proses berpikir dan bertindak sang Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) periode 2016-2021.

Dalam berbicara, dia menjabarkan fakta-fakta yang ditemui ketika bertugas di lapangan. Keterbukaan tersebut dimaksudkan, agar masyarakat kian tergerak bahu-membahu memajukan ibu pertiwi bersama pemerintah.

Dalam bertindak, tergambar dedikasi sepenuh hati untuk melayani masyarakat. Gaya penanganannya lebih menuju silent worker. Tak senang mengumbar pencitraan, lebih memfokuskan kepada pengecekan dan penanganan langsung di setiap daerah.

Kali ini, kami menguntai citra humanis Khofifah dari berbagai sisi. Kebersamaan kami dalam waktu sehari berpadu dengan perjalanan kariernya kian mengukuhkan pribadi sang menteri senang berpenampilan sederhana. Tegas berbicara, enggan diistimewakan, tak nyaman berlama-lama di depan kamera, dan tidak kenal lelah dalam merampungkan segala tugas-tugasnya.

Sungkan Diistimewakan

Sepanjang perjalanan, kami menyimak gerak-gerik sungkan Khofifah, ketika diperlakukan istimewa. Beruntung, kami sudah mendampingi perjalanan Khofifah sejak di Jakarta.

Ternyata, dia selalu memilih penerbangan kelas ekonomi dan duduk di belakang tim Women’s Obsession. Ketika mendarat, dia mengantri untuk turun di pesawat, tak meminta layanan khusus agar didahulukan. Sempat pula melayani permintaan selfie salah satu penumpang pesawat.

Tujuan pertama kami adalah kediaman pribadi di kawasan Jemursari. Di sana, kami bertemu putra bungsunya, Ali Mannagalli. Usai melepas rindu, Khofifah menyantap masakan rumahan kesukaannya. Di meja makan tersaji pecel, empal, peyek udang, cumi hitam, ikan gulai, dan kerupuk.

Dengan ramah, dia mengajak semua untuk segera menikmati sajian selagi hangat. Usai bersantap, dia menyeruput secangkir kopi hitam kesukaannya dan berbincang-bincang dengan si bungsu di dalam kamar. Dalam setiap kunjungan di berbagai tempat, sudah lazim tuan rumah menjamu tamu. Namun, hal itulah yang dihindari Khofifah. Dia berusaha melebur tanpa membangun jarak.

Dalam hal makanan, dia lebih memilih bersantap bersama-sama, dibandingkan menyantap yang khusus dihidangkan untuknya. Misalnya, saat kami menghadiri acara halal bihalal di Yayasan Khadijah Surabaya, almamaternya saat SMP & SMA, dia menanggapi penawaran layanan istimewa dengan berkata, “Opo, tidak boleh manja. Saya antri dengan anak-anak saja di sini. Tenang saja.”

Dia hanya menghabiskan semangkuk soto daging, karena harus menunaikan salat Zuhur dan bersiap untuk agenda keduanya. Sementara itu, jamuan spesial dinikmati oleh tamu lain dan timnya, termasuk para wartawan lokal.

Selama perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, Khofifah mendapat pengawalan sederhana. Bantuan pengawalan tersebut diperlukan, agar dapat memenuhi empat agenda dalam waktu yang berdekatan.

Di dalam mobil berplat RI 30, tersimpan sebotol minuman berenergi dan air putih guna mendukung daya tahan tubuh menteri yang gemar mendaki gunung tersebut. Selain itu, nampak setumpuk berkas di sampingnya. Silvy Riana Putri | Fikar Azmy

 

Untuk membaca kisah selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Juli 2017

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here