Lebih dari Satu Bahasa

Bahasa merupakan elemen komunikasi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Bagi anak, bahasa memegang peranan sangat penting dalam proses pemahaman konsep, bersosialisasi, ekspresi pemikiran, dan emosi mereka.

jcl-blog-post-mar-16

 

Saat ini, anak-anak kita tumbuh di tengah beragam budaya, termasuk bahasa. Mulai dari bahasa Inggris, Mandarin, Perancis, Jepang, dan lain-lain. Sebagian sekolah di beberapa kota besar telah menerapkan penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantarnya. Bahkan, ada sekolah yang menawarkan lebih dari satu bahasa asing kepada siswanya. Kondisi ini seolah ‘menggoda’ orang tua untuk memberikan stimulasi bahasa lain, di luar bahasa ibu. Apakah ini salah? Sampai sejauh ini masih ada pertentangan antara pro dan kontra terhadap pengajaran bahasa asing kepada anak, khususnya anak usia prasekolah (di bawah 6 tahun).
Berikut sebagian hasil penelitian yang masing-masing mendukung pihak yang pro dan kontra:

Pro
Kapasitas pemikiran anak usia dini bisa menampung dua bahasa, bahkan lebih khususnya pada usia tiga tahun pertama.
Bilingual membuat anak belajar bahwa ada cara lain untuk mengatakan sesuatu. Ini membuat anak menjadi kreatif.
Belajar bilingual di usia dewasa akan lebih banyak lupa, usia terbaik adalah kanak-kanak.

Kontra
Anak lebih cepat lupa daripada orang dewasa. Jadi belajar bilingual bisa ditunda.
Anak yang belajar bahasa asing lambat laun akan melupakan dan mengganti bahasa ibunya.
Belajar bahasa kedua di usia dini berisiko anak kehilangan kemampuan komunikasi dalam bahasa ibu dan mengalami bingung bahasa.
Hasil penelitian tersebut, alangkah baiknya membuat orang tua lebih serius dalam menyikapi masalah penggunaan lebih dari satu bahasa bagi anak di usia dini. Idealnya, anak usia dini tumbuh dengan satu bahasa. Selain lebih mudah bagi anak, juga menciptakan rasa aman pada anak karena semua orang menggunakan bahasa yang sama ketika
bicara dengannya.  Namun, penggunaan bahasa asing kepada anak juga bukan sesuatu yang tabu. Memang ada banyak kasus anak bingung berbahasa, sehingga perkembangan bahasanya terhambat. Tapi, ada juga anak-anak yang mampu lebih dari satu bahasa, bahkan mereka fasih penggunannya. Foto: Istimewa

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi September 2016

 

 

 

 

 

vera-i-hadiwidjojo

Rubrik ini diasuh oleh Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi.

Lulus dengan gelar sebagai psikolog pada tahun 2001 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ibu dari dua orang anak ini langsung memfokuskan diri pada psikologi anak & remaja. Berpraktek di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (021-3145078) dan Rumah Anak Mandiri Depok (021-97797110). Vera juga aktif sebagai psikolog di beberapa sekolah di area Jabodetabek, menjadi narasumber untuk media cetak dan elektronik, menjadi pembicara seminar/talkshow, maupun pakar untuk produk mainan Mattel Fisher-Price.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here