Magic Words

“Mereka tidak sepenuhnya paham bahwa dengan bilang tolong, maaf, dan terima kasih itu artinya adalah belajar berempati dan peduli pada perasaan orang lain.

Rasanya gemas sekali saat melihat orang-orang yang bergerombol di depan lift. Begitu pintu terbuka mereka lalu tergesa-gesa masuk ke dalam lift, tanpa peduli ada orang yang perlu keluar dulu dan seolah-olah takut tertinggal.

Tak jarang saya harus bilang, “Permisi…, saya keluar dulu…” Tentunya banyak orang juga memiliki pengalaman yang sama seperti saya.

Ingin sekali berteriak ketika melihat anak-anak menyerobot antrian, sementara orangtua di belakang mereka malah ‘menyemangati’ anaknya untuk maju terus. Oh dear…, where has all the manners gone?

Sama juga seperti ketika melihat anak-anak sepulang sekolah, di gerbang sekolah langsung menyerahkan semua barang bawaan kepada yang menjemput. Atau bahkan ada yang langsung menjatuhkan begitu saja di lantai.

Lalu, si penjemputlah yang mengambil, sementara si anak berlalu begitu saja, tanpa berkata apapun. Miris sekali melihatnya.

 

Saya pun jadi terpikir, apakah di zaman serba canggih dan instan ini, nilai tata krama menjadi tidak penting lagi?

Seringkali etika seperti bersalaman, bertemu orang yang lebih tua atau selalu bilang kata tolong, maaf, dan terima kasih, dianggap sebagai nilai lama yang datang dari ajaran orang-orang tua di masa lalu.

Kecenderungan saat ini, anak diberi kesempatan untuk berani mengekspresikan dirinya kepada siapapun. Sebenarnya hal tersebut baik, tapi terkadang dalam praktiknya tata krama jadi terlupakan.

Di banyak acara tontonan juga sering kita melihat perilaku yang tidak memperhatikan tata krama juga mendapat apresiasi yang menyenangkan. Mereka lupa perilaku ini dipelajari oleh anak-anak.

Sementara kita sebagai orangtua kerap terlena hanya fokus pada hal penting-penting saja, seperti prestasi sekolah, kecukupan gizi, liburan, dan sebagainya.

Menurut Emily Post, seorang pakar etiket terkemuka, manners are sensitive awareness of the feelings of others.

Persoalan tata krama bukan hanya semata aturan yang mengekang dan membosankan, tetapi banyak hal yang diolah di dalamnya.

Memperhatikan bagaimana harus berperilaku dengan orang lain, anak belajar untuk memahami perasaan orang tersebut. Apa jadinya, jika anak tumbuh tanpa tahu tata krama.

Bisa jadi generasi berikutnya di masa depan, adalah generasi yang sangat individualis dan tidak peduli pada sekitarnya.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi November 2015

 

Rubrik ini diasuh oleh Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi.

Vera I Hadiwidjojo

Lulus dengan gelar sebagai psikolog pada tahun 2001 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ibu dari dua orang anak ini langsung memfokuskan diri pada psikologi anak & remaja.

Berpraktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (021-3145078) dan Rumah Anak Mandiri Depok (021-97797110).

Vera juga aktif sebagai psikolog di beberapa sekolah di area Jabodetabek, menjadi narasumber untuk media cetak dan elektronik, menjadi pembicara seminar/talkshow, maupun pakar untuk produk mainan Mattel Fisher-Price.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here