Manajemen Isu dan Perbedaan

Perbedaan latar belakang bisa meliputi pengalaman, pendidikan, sosial-budaya, psikologis, dan sebagainya. Berbagai perbedaan tersebut ikut mempengaruhi perilaku dalam berkomunikasi.

 

Isu merupakan sesuatu yang bertentangan atau menimbulkan polemik tentang seseorang atau organisasi. Isu bisa muncul dalam bentuk opini, yaitu pernyataan yang bisa dikemukakan melalui kata-kata, isyarat, atau cara lain yang mengandung makna tertentu.

Dari kondisi tersebut, muncullah kajian manajemen isu yang kini berkembang menjadi manajemen hubungan pemangku kepentingan. Dengan kata lain, manajemen isu adalah proses yang bertujuan membantu melindungi pasar, mengurangi risiko, menciptakan kesempatan, dan mengelola imej sebagai aset organisasi.

Manajemen isu meliputi serangkaian aktivitas yang berkesinambungan. Pertama, sebagai tahap awal, isu muncul ke permukaan ketika organisasi atau kelompok merasa berkepentingan terhadap suatu masalah.

Contohnya, terjadi perkembangan tren politik, ekonomi, sosial, perubahan teknologi maupun undang-undang. Tren harus diidentifikasi sebagai asal kemunculan isu.

Kedua, menganalisa isu. Sumber isu bisa dari individu atau organisasi. Dalam tahap ini, seringkali sulit ditemukan asal lahirnya isu tersebut. Karena biasanya isu tidak muncul hanya dari satu sumber.

Di sini, kemampuan riset kualitatif maupun kuantitatif menjadi penting. Tahap riset dan analisa awal akan membantu mengidentifikasi apakah yang dikatakan individu dan kelompok berpengaruh terhadap isu-isu.

Ketiga, pilihan strategi perubahan isu (issue change strategy options). Di sini, manajemen memiliki tiga pilihan.

Pertama, organisasi tetap fokus kepada sikap lama dan tidak ingin melakukan perubahan.

Kedua, organisasi melakukan strategi perubahan adaptif. Menawarkan dialog konstruktif untuk menemukan sebuah bentuk kompromi atau akomodasi. Atau menjadikan organisasi sebagai pelopor pendukung perubahan yang biasa disebut strategi dinamis.

Keempat, program tindakan terhadap isu. Setelah memiilih satu dari ketiga pendekatan tersebut, organisasi harus memutuskan kebijakan yang mendukung perubahan. Kelima, evaluasi berdasarkan riset, agar dapat membandingkan hasil yang didapat (actual) dengan hasil program diinginkan.

Lalu, bagaimana sikap kita saat menghadapi perbedaan? Contoh saja, ketika melihat gelas yang setengahnya terisi air. Di antara kita bisa mengatakan bahwa airnya terbuang setengah, terisi separuh, setengahnya kosong, atau orang yang mengisi gelas terburu-buru pergi, sehingga tak sempat mengisi penuh. Dengan kata lain, fakta bisa sama, namun interpretasi bisa berbeda.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Mei 2017

 

Rubrik ini diasuh oleh Prita Kemal Gani MBA, MCIPR, APR

Memasuki tahun ke-27 berkarier di dunia kehumasan Indonesia, Ketua ASEAN Public Relations Network dan Pemilik & Direktur LSPR Jakarta ini tetap setia membagikan ilmu dan pengalamannya tanpa henti.

Berbagai penghargaan dalam maupun luar negeri telah disematkan kepadanya, antara lain terpilih menjadi satu-satunya perempuan dari Indonesia yang mendapatkan pembinaan Entrepreneurial Winning Women TM dari Ernst & Young pada tahun 2015 bersama tiga belas perempuan terpilih lainnya dari Asia Pasifik.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here