Maya Miranda Ambarsari | Multi Business Founder

Ketangguhan Maya dalam berbisnis, tak pernah membuatnya gentar menciptakan peluang baru untuk membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan. Konsistensi dalam berbisnis selaras dengan kesetiaannya untuk terus berbuat demi kehidupan kekal nantinya.

Kiprah Maya Miranda Ambarsari sebagai pebisnis di berbagai bidang membuktikan dirinya sebagai perempuan tangguh dan pantang menyerah dalam menciptakan peluang emas.

Sebelum memiliki kisah cemerlang sebagai wanita pebisnis, dia sudah mengembangkan jiwa entrepreneurship sejak menempuh studi internasional bisnis di Melbourne. Mulai dari bekerja part time di Konsulat Jenderal Indonesia, menjadi penari, koreografer, presenter, juru masak bahkan model fashion show.

Sepulangnya ke Indonesia, alumnus Fakultas Hukum Universitas Pancasila ini sempat menjadi senior lawyer. Kemudian dia berkarier di perusahaan telekomunikasi dan advertising. Baru di tahun 2006, Maya berkarya di atas kakinya sendiri. Bersama teman-temannya dari Australia, Maya mengawali berbisnis di bidang gold mining.

Dia tetap tampil feminin, meski menekuni bisnis pertambangan yang ‘keras’ dan didominasi oleh para pria. Selama 11 tahun bekerja di bidang gold mining, tentu saja ada pasang surut. Karena bisnis ini melihat dari berbagai aspek, yaitu stakeholders, finansial, teknologi, dan sumber daya manusia,” akunya.

Bersama suami tercinta, Andreas Reza Nazaruddin dan beberapa rekan bisnis lainnya, Maya mendirikan PT Merdeka Copper and Gold Tbk. Perusahaan tersebut sudah IPO pada Juni 2016. Tak berhenti di gold mining, dia pun mengukir sukses di bidang properti. Sebagai pemilik dan President Director PT Tritunggal Agung Propertindo, dia meluncurkan Grand Dafam Cisarua (Condotel).

Dia pun memiliki guest house Elliottii Residence di bilangan Jakarta Selatan dan Puncak. Salah satu ketertarikan Maya terjun di dunia properti, karena menyenangi dunia arsitektur dan interior. “Biasanya, ketika menemukan tanah yang cocok untuk hotel atau kondotel, di dalam pikiran saya sudah bermunculan ide dan tema untuk bangunan, desain kamar, lobi, dan fasilitas lainnya,” Maya menjabarkan.

Kini, dia pun mengembangkan amanah mulia ke aspek yang lebih besar. Selain mengabdi kepada keluarga dan mengelola aneka bisnis, ibu dari Muhammad Khalifah ini juga aktif dalam kegiatan sosial maupun organisasi. Sejak tiga tahun lalu, dia membangun Rumah Belajar Miranda (RBM) di Kebayoran.

Sebuah sarana pendidikan anak-anak, sekaligus pemberdayaan maupun perawatan kesehatan bagi wanita kurang mampu. RBM salah satu janji Maya kepada mending ibunda untuk melanjutkan majelis taklim. Saat ini, RBM memiliki 600 murid yang dikelola oleh 17 pengajar dengan pengelolaan manajemen secara profesional.

Dia juga ikut berperan dalam terbentuknya organisasi perempuan sebagai Sekjen Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI). Organisasi yang terbentuk pada April 2016 ini berkomitmen mengembangkan kaum Hawa di berbagai profesi.

Di organisasi ini, selain diamanahkan sebagai orang nomor dua, dia juga banyak berbagi pengalaman. Maya menjadi mentor atau pembicara berbekal ‘kekayaan’ pengalamannya berbisnis di berbagai sektor usaha.

Lebih jauh, Putri Bengkulu ini juga memiliki keinginan besar mengenalkan kota kelahirannya ke seluruh negeri. Salah satu aksi nyatanya lewat buku ‘Bengkulu, I Adore!’ yang tengah ditulisnya dan memanfaatkan saluran komunikasi lain, seperti film pendek guna membantu pemerintah daerah melakukan destination branding.

Dedikasi Maya sebagai pengusaha banyak diapresiasi berbagai pihak. Di tingkat mancanegara, dia pernah meraih penghargaan sebagai The Best Gold Mining of The Year dari ASEAN Business Award 2011.

Dari segi kecakapannya sebagai salah satu wanita pebisnis, Maya disematkan sebagai An Inspired Sociopreneur Award dari Property and Bank Awards 2016 dan Anugerah Wirausaha Indonesia 2016 dari Trasn CO Research. Silvy Riana Putri | Dok. Pribadi

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here