Melindungi Diri Sendiri

Mother having discussion with son

Sebagai seorang ibu, tidak jarang saya ingin sekali mengkloning diri saya paling sedikit menjadi tiga orang. Satu akan bertugas mendampingi si sulung ke mana pun dia beraktivitas, kedua untuk si bungsu dan ketiga untuk suami tercinta.

Saya yakin bukan cuma saya yang mempunyai keinginan seperti ini. Kebanyakan ibu ingin mendampingi dan menjaga buah hatinya sepanjang waktu apalagi di dunia yang sekarang ini seolah terasa semakin tidak aman bagi anak-anak.

Tapi hal tersebut tidak mungkin dilakukan, bukan? Anak-anak memiliki sejuta aktivitas, begitu pula kita ibunya. Selain itu, jika anak terus didampingi, maka akan seperti apa perkembangan kemandiriannya?

Bisakah dia melindungi atau membela diri ketika kita tidak ada di sampingnya? Cara terbaik adalah melatih anak untuk melindungi diri sendiri. Sebagai orangtua, kita berkewajiban mengajarkannya bagaimana melindungi diri sendiri.

Melatih anak untuk melindungi diri sendiri mungkin tidak semudah yang kita bayangkan, karena varian bahaya di luar (atau di dalam) rumah semakin banyak hal yang patut diketahui dan diwaspadai.

Tidak hanya cukup mengajarkan, banyak orang tua  bingung memulainya tanpa membuat anak takut atau cemas berlebihan. Ini sering terjadi ketika kita mengajarkan anak bagaimana bersikap kepada orang yang belum dikenal.

Kita juga terkadang menjadi rancu dalam mengajarkan anak, misalnya dia  tidak boleh dekat-dekat dengan orang yang belum atau baru dikenal. Tetapi ketika ada  tamu bertandang ke rumah, kita terkadang memaksa anak untuk bersalaman dan membuat  anak bingung.

Mulailah dari pengalaman kecil, misalnya meletakkan sepatu pada tempatnya, akan timbul perasaan “Hai, aku bisa!” di dalam diri anak. Pengalaman berulang seperti ini akan membuat anak percaya kepada kemampuan dirinya.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Maret 2016

 

Rubrik ini diasuh oleh Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi.

vera-i-hadiwidjojo

Lulus dengan gelar sebagai psikolog pada tahun 2001 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ibu dari dua orang anak ini langsung memfokuskan diri pada psikologi anak & remaja.

Berpraktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (021-3145078) dan Rumah Anak Mandiri Depok (021-97797110).

Vera juga aktif sebagai psikolog di beberapa sekolah di area Jabodetabek, narasumber untuk media cetak dan elektronik, pembicara seminar/talkshow, maupun pakar untuk produk mainan Mattel Fisher-Price.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here