LSS | Menebarkan ‘Virus’ Lari

            Tak hanya untuk fun saja, semangat nasionalisme juga dibangun sesuai dengan tagline LSS, Semakin Indonesia, Semakin Bangga.  Komunitas ini pun kemudian menjadi wadah berkumpulnya para pecinta dan pengiat olahraga lari.

highrest.OK2

 

Komunitas Lelarian Sana Sini (LSS) awalnya terbentuk dari hobi yang sama, yaitu suka berlari di area Gelora Bung Karno (GBK) Senayan dan sering bertemu saat pemanasan maupun  beristirahat. Empat pelari dan motivator olahraga, Audie Latuheru, Renato J Joesaki, Bintang Hutagalung, dan Oktadiprasetyo  kemudian tertarik untuk mendirikan komunitas LSS.

“Kalau lari sendiri kadang kita suka malas, karena tak ada yang memotivasi. Tapi, jika dalam komunitas bisa saling menyemangati untuk tetap  konsisten berlari. Karena berjiwa nasionalis, kami pun sengaja menghindari adanya kata runners dan lebih menggunakan bahasa Indonesia, biar orang umum yang mau bergabung tidak minder. Selain itu juga juga jadi bisa merangkul orang di mana pun berada tertarik lari dan menjadi sehat, ” papar Audie yang berprofesi sebagai polisi, pilot, dan penerjun payung nasional ini.

Lalu, melihat dalam dunia lari jarang ada orang Indonesia berprestasi di pentas dunia, baik ajang Sea Games maupun Olimpiade. LSS pun mengajak para pelari profesional Indonesia jangan hanya mau menjadi penonton dan meniru-niru para juara lari dunia saja. Renato menambahkan, “Jadi, tak hanya untuk fun saja, semangat nasionalisme juga dibangun sesuai dengan tagline LSS, Semakin Indonesia, Semakin Bangga.  Komunitas ini pun kemudian menjadi wadah berkumpulnya para pecinta dan pengiat olahraga lari.”

Sejak efektifnya berjalan di tahun 2014, anggota LSS kian berkembang menjadi sekitar 2000 peserta yang tersebar di berbagai kota seperti Surabaya, Medan, Semarang, dan lainnya. “Di daerahnya masing-masing mereka membuat komunitas LSS dengan kegiatannya tersendiri, seperti di Bali, Jawa timur, Semarang, Medan dan lainnya. Kalau di Jakarta, jadwal tetap berlari adalah di  Selasa malam dan Jumat pagi,” kata Oktadiprasetyo yang berprofesi menjadi seorang auditor dan pembalap.

 

PhotoIMG_4327(1)

Selain Facebook, sebagai sarana untuk berinteraksi dan edukasi,  kini LSS sudah memiliki aplikasi  pun bisa di-download di smartphone berbasis android maupun iphone. Berisi berbagai tip & trik bagaimana agar tidak merasa lelah dan  tersiksa saat berlari, tapi  malah menjadi kegiatan menyenangkan. Bintang yang berprofesi sebagai pekerja kantoran dan pemusik mengatakan, “Tak hanya ber-selfie ria dan bercanda, di sini member dapat bertanya, contohnya jika saat berlari kaki terasa sakit, dapat ‘dilempar’ di website ataupun facebok, sepatu seperti apakah yang tepat digunakan dan solusi akhirnya dapat terjawab.”

Audie melanjutkan, “Selain misi ‘meracuni’ orang-orang agar mau berlari, kami juga mengampanyekan bahwa untuk menjadi sehat tidak cukup hanya dengan mengonsumsi makanan sehat, tapi juga   harus berolahraga. Di LSS  ada segitiga yang harus diikuti yaitu menjaga makan, tidur, dan berolahraga lari. Kalau salah satu tidak dilakukan, pastinya akan menjadi tidak sehat.” Para anggota LSS yang jumlahnya berimbang antara perempuan dan laki-laki ini juga kerap membawa anak masing-masing untuk berlari.  “Agar terbiasa sedari dini sudah diperkenalkan dan ditanamkan suka olahraga lari serta cinta berbahasa Indonesia. Kami yang berprofesi pilot sekarang ini sudah tidak memakai lagi kata safe flight dan lebih menggunakan kata terbang aman,” lanjut Renato yang bekerja sebagai pilot di perusahaan penerbangan pemerintah ini. Elly Simanjuntak |Foto: Dok. LSS

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Juni 2016

 

 

 

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here