Mengimbangi Isu Negatif

Seiring berkembangnya media komunikasi, informasi, atau isu tentang sebuah organisasi atau perusahaan mudah sekali berembus. Lalu, bagaimana tanggapan dan aksi para Public Relations (PR)?

Kini, lanskap media kian meluas. Fenomena tersebut membuka kesempatan, sekaligus tantangan bagi organisasi untuk menampilkan diri. Media baru menawarkan potensi untuk berkomunikasi langsung dengan stakeholders.

Semua organisasi atau perusahaan selalu mengharapkan adanya dukungan positif dari publik. Apa sajakah itu?

Di antaranya cerita atau pengalaman positif yang beredar di masyarakat tentang aktivitas organisasi atau suatu perusahaan.

Namun kenyataannya, karakteristik publik yang dihadapi beragam, kemudian justru akan mempengaruhi interpretasi dan pemahaman publik tentang organisasi. Efek dari keragaman karakteristik adalah kerap muncul informasi yang simpang siur, bahkan berkembang menjadi rumor atau isu.

Apakah itu berarti buruk bagi perusahaan atau organisasi yang dimiliki? Sebenarnya, perbedaan tersebut mengindikasikan adanya kelompok yang mungkin berpikiran positif dan loyal.

Kelompok tersebut biasa menjadi pendukung atau pembela perusahaan tanpa kompensasi. Mereka juga suka menghubungkan satu dengan yang lainnya dengan minat yang sama. Selain itu, kelompok loyal merupakan pihak yang mudah berbagi informasi yang dimiliki.

Untuk mendapatkan kelompok tersebut, PR harus melakukan pemetaan dan manajemen isu. Tujuannya agar mampu mengidentifikasi, menganalisa, dan mengelola berbagai isu yang muncul, serta mempengaruhi aktivitas organisasi.

Dalam kajian organisasi, manajemen isu cenderung dilakukan dengan banyak pendekatan. Salah satu yang cukup populer adalah pendekatan terintegrasi (engagement approach) yang diperkenalkan oleh oleh Wendy Taylor, Elizabeth Byers, dan Maureen Daly dalam buku Early Years Management in Practice.

Pendekatan terintegrasi menegaskan dialog aktif atau keterlibatan antara organisasi dan publik yang paling efektif dalam mengelola isu. Dialog bisa dilakukan langsung maupun tak langsung.

Menjangkau orang-orang yang akan mendapatkan manfaat dari produk atau jasa perusahaan maupun organisasi yang dimiliki. Ini salah satu langkah penting.

Anda bisa memperkenalkan  diri, dan menjalin hubungan yang saling menguntungkan sembari sesekali melakukan kegiatan informal, seperti minum kopi atau teh bersama.

Integrasi (engagement) dalam konteks ini mengacu kepada pemahaman bahwa stakeholders relevan dipertimbangkan dan dilibatkan dalam keputusan organisasi.

Ada tiga asumsi penting yang berkaitan dengan pendekatan terintegrasi.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2017

 

Rubrik ini diasuh oleh Prita Kemal Gani MBA, MCIPR, APR

Memasuki tahun ke-27 berkarier di dunia kehumasan Indonesia, Ketua ASEAN Public Relations Network dan Pemilik & Direktur LSPR Jakarta ini tetap setia membagikan ilmu dan pengalamannya tanpa henti.

Berbagai penghargaan dalam maupun luar negeri telah disematkan kepadanya, antara lain terpilih menjadi satu-satunya perempuan dari Indonesia yang mendapatkan pembinaan Entrepreneurial Winning Women TM dari Ernst & Young pada tahun 2015 bersama tiga belas perempuan terpilih lainnya dari Asia Pasifik.

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here