Wanny Di Fillipo | Menikmati Kesederhanaan

Tiga prioritas hidup saya, kesehatan, kebebasan, dan persahabatan  bukanlah sesuatu yang bersifat materi. Dari pengalaman asam garam kehidupan dan usia saya yang tidak  lagi muda,  pada akhirnya itulah yang lebih membuat jiwa saya bahagia.

Didominasi  dengan nuansa warna kulit natural yang diolah secara tradisional menggunakan tangan manusia, banyak orang dari berbagai belahan dunia jatuh cinta dengan tas, dompet, ikat pinggang, dan sandal Il Bisonte. Mempertahankan modelnya yang klasik dan tidak mau ‘dinodai’ dengan gaya trend terkini, sosok dibalik brand  berusia 46 tahun ini adalah seorang pria sederhana yang membumi, Wanny di Fillipo.

 

wanny

TEKNIK ALAMI TANPA KIMIA

Beragam produk aksesoris kulit dia ciptakan  dari kulit sapi atau kerbau yang disamak menggunakan bahan alami yang warnanya menjadi lebih gelap seiring dengan berjalannya  waktu. Perubahan warna tersebut disebabkan paparan sinar matahari, udara, dan masa pemakaian, khususnya untuk produk kulit berwarna coklat terang alami.

“Proses pengeringan kulit  yang telah berabad-abad dilakukan menjadi  momen yang menentukan kualitas kulit sapi. Jika dikeringkan secara baik, kulit yang dihasilkan menjadi material yang tahan lama dan berkualitas.

Inilah ciri khas dan kelebihan kulit sapi dari Italia. Memakai teknik vegetable tanned-leather, artinya  kulit hanya dikeringkan dengan bahan alami mengandung tanin, seperti  akar, kayu, daun-daunan, dan buah-buahan. Berbeda dengan proses pengeringan kulit menggunakan chromium sulfat  yang mendominasi pemrosesan 80% kulit sapi di dunia,” lanjut pria yang  hobi main bilyar dan  membaca komik Tex Willer ini.

Walaupun telah merambah ke pasar internasional, Wanny selalu mempertahankan teknik pembuatan tas yang mayoritas dikerjakan secara handmade di pusat produksi Il Bisonte di sebuah pedesaan di Florence.

Menyesuaikan dengan konsep di Italia, butik Il Bisonte pertama di Asia Tenggara yang berlokasi di Grand Indonesia pun dibangun dengan gaya desain interior Eropa klasik nan anggun. Dibuat dengan tema ruang keluarga ala bourgeois dan di lengkapi sofa Oxford berhadapan dengan perapian. Setahun kemudian, cabang kedua hadir di Pondok Indah Mal 2 dan belakangan kembali dibuka butik ketiga yang berlokasi di Mal Pacific Place Jakarta. Elly SimanjuntakDok. Pribadi

 

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Juli 2016

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here