Bunga Swastika Putri | Menyenangi Dinamika Event

Bunga Swastika Putri
Bunga Swastika Putri

 

Ketika orang percaya dengan konsep kita, kemudian berhasil mewujudkannya. Di situlah kebahagiaan tiada tara mengalir ke sekujur tubuh.

 

Lulusan Kriminologi Universitas Indonesia angkatan 2001 ini mengaku senang kegiatan luar ruangan dan berinteraksi dengan banyak orang. Sejak remaja, hidupnya diwarnai aneka kegiatan mulai dari menari, olahraga, hingga bintang iklan.

Di masa lajangnya, dia sempat membintangi iklan produk makanan. Pengalaman adalah guru terbaik, deksripsi yang paling sesuai dengan karakter division manager PT Dyandra Promosindo ini.

Pembawaan diri sulung dari lima bersaudara tersebut mengekspresikan perempuan modern, kasual, dan tidak neko-neko. Dia menuturkan sebelum bergabung di Dyandra, semasa kuliahnya sudah mengerjakan berbagai event yang kelasnya cukup prestisius, seperti Thomas dan Uber Cup.

“Menangani event is my passion. Saya akui ini tidak berkaitan dengan mata kuliah yang dipillih, tapi lebih ke arah panggilan jiwa. Orang-orang yang bergelut di event memang produk jualannya tak berbentuk. Hanya ide dan konsep.

Ketika orang percaya dengan konsep kita, kemudian berhasil mewujudkannya. Di situlah kebahagiaan tiada tara mengalir ke sekujur tubuh,” tukas perempuan berlesung pipi ini dengan serius.

Senang Menerima Tantangan

Dyandra adalah perusahaan pertama dan terakhir untuk saat ini, karena Bunga belum terpikirkan untuk berpindah ke lain hati. Pada 2007, dia bergabung. Selama empat setengah tahun, dia berjibaku di Dyandra.

Dua tahun kemudian hijrah ke Debindo Mitra Dyantama, masih satu payung dengan Dyandra. Kemudian melancong ke sister company lainnya, Radyatama. Baru di 2015, dia kembali ke pangkuan asalnya, yaitu Dyandra.

“Dibilang pengembara juga bisa. Perpindahan tersebut memperkaya ketahanan dan kreativitas saya. Jujur, awal mula di-transfer  ke sister company sempat mengalami culture shock.

Dari segi anggaran, cakupan, jumlah tim, dan jenis event yang diadakan jauh berbeda. Beruntung saya melalui semuanya dengan lancar. Alhamdulillah, pengalaman tersebut membuat saya  sekuat karang dan santai, seperti semilir angin,” selorohnya.

Selain ditempa dengan pergantian tim, momen kembalinya ke Dyandra disambut dengan dinamika IIMS 2015. Lagi-lagi, dia membuktikan karakter kebanyakan orang yang bergerak di event, yaitu ristaker and full effort.

Dia menerangkan,“Secara professional merupakan risiko terbesar yang pernah saya ambil. Saat itu, banyak tekanan, rintangan, proses panjang meyakinkan para klien, publik, termasuk media.

Keyakinan yang membuat saya tetap bertahan adalah bagaimana kalau tiba-tiba tidak ada event-nya, sayang sekali. Karena saya termasuk tim yang membidani lahirnya IIMS. Ibaratnya, saya menantang diri sendiri, masa tidak ada yang bisa kita perbuat. Alhamdulillah, kerja keras itu ada hasilnya. Silvy Riana PutriFikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Mei 2016

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here