MERRY HARUN | Tak Berpindah ke ‘Lain Hati’

Datascrip

Saya mengalami berbagai fase, dari saat printer Canon belum dikenal di Indonesia di awal tahun 1990-an, kamera digital belum familiar di pertengahan 1990-an, ketika mencapai market leader, hingga fase mempertahankan market share yang ternyata tidaklah mudah.

Perjalanan karier sang ‘Ibu Canon’ bernama lengkap Merry Harun ini terbilang banyak dihabiskan untuk membangun pasar produk Canon yang bervariasi seperti kamera, printer, proyektor, camcorder, binocular, dan lain-lain melalui jalur distribusi PT Datascrip.

Berawal dari seorang sekretaris eksekutif di perusahaan asing, Merry termasuk sosok perempuan yang tak mau berdiam diri hanya menjadi sekretaris. Dia pun tak pernah bosan membekali diri dengan berbagai kursus dari public relations sampai psikologi terapan. Dan berlanjut dengan ketertarikannya mencari pengalaman di bagian public relations PT Datascrip.

“Namun, saat itu kebutuhan yang ada ternyata di departemen sales dan marketing. Saya tak ragu untuk menerima pekerjaan tersebut, karena tidak semua orang bisa melakukannya. Bagian sales dan marketing sebenarnya tidak hanya berjualan barang, tetapi juga ide. Inilah yang sulit, maka saya terima tantangan tersebut,” papar perempuan kelahiran Bandung ini.

coverKariernya kemudian terus berkembang berawal sebagai assistant division manager, division manager, hingga menjadi Canon division director. Prinsip hidupnya adalah never give up dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Dia percaya segala sesuatu didapatkan dengan upaya yang sungguh-sungguh dan tak boleh terlena.

Ketika ditanya mengapa dia tidak tertarik untuk berpindah perusahaan dan tetap setia bekerja di PT Datascrip? Dia menerangkan, ”Passion saya memang di sini, ya. Kebetulan divisi Canon produknya sangat variatif dan memiliki tantangan tersendiri. Market-nya berganti-ganti dan luas, jadi tidak membosankan.

Saya mengalami berbagai fase, dari saat printer Canon belum dikenal di Indonesia di awal tahun 1990-an, kamera digital belum familiar di pertengahan 1990-an, ketika mencapai market leader, hingga fase mempertahankan market share yang ternyata tidaklah mudah.”

Merry menyukainya, karena pekerjaannya begitu dinamis dan selalu ada tantangan baru. Dia cocok bekerja di sini, karena perusahaan tersebut memberikan dirinya kesempatan sejak awal untuk berkembang dan merintis karier.

Itulah sebabnya, dia tergugah mengembalikan kemampuan yang dimiliki kepada para karyawan untuk pengembangan perusahaan selanjutnya.

STRATEGI AGAR EKSIS

Tantangannya dalam berkarier adalah bagaimana menjadikan produk-produk Canon bisa menjadi market leader di Indonesia. Apalagi, barangnya banyak dan satu per satu harus diangkat, agar berhasil di pasaran. Inovasi, teknologi, regulasi terus berkembang, dan mengalami perubahan secara cepat.

“Kami mesti bisa mengimbangi, menyesuaikan diri, dan terus belajar, agar bisa bertarung di market yang kompetitif. Namun, secara umum kami tetap mengacu kepada prinsip segmentation, targeting, dan positioning. Jadi, beda produk, beda pula strateginya, dan ciri khas Canon adalah high quality dengan harga terjangkau,” ujarnya dengan nada bersemangat.

IMG_9188

Keadaan situasi ekonomi sekarang ini memang masih belum membaik. Siapa yang kuat sepertinya itulah yang bertahan, jika tidak akan dengan sendirinya berguguran. Berbicara mengenai dunia kamera, kalau melihat situasi euforia pasar kamera sendiri, peak-nya adalah dua tahun lalu. Setelah itu, survival for the fittest.

“Tahun 2016 sepertinya tidak jauh berbeda dengan 2015. Kami memang harus optimis, tapi tidak mau juga berlebihan. Seperti tahun lalu kami sempat over optimis di 2015, karena biasanya setelah pemilu pasar akan membaik.

Tapi, yang terjadi bukannya naik, malah sedikit meluncur ke bawah. Target tahun 2016 ini, kami naikkan sedikit dari pencapaian tahun lalu,” ujar perempuan yang terbiasa tidur tujuh jam dalam sehari ini.

Salah satu strategi supaya bisnis tetap eksis dan bertahan di tengah kondisi sesulit apapun, pendapatnya adalah harus tetap meluncurkan produk baru. Baik itu sesuatu yang sifatnya pembaruan teknologi, terobosan baru, maupun marketing gimmick, dan Canon rutin melakukan kegiatan product launching.

Dia menerangkan, “Dari produk printer, Canon sudah masuk ke era baru dengan meluncurkan printer dengan teknologi tinta yang bisa di-refill. Lalu, untuk mengimbangi fungsi kamera yang sudah banyak menyatu ke smartphone, Canon mengantisipasinya dengan meluncurkan kamera compact dengan zoom jarak jauh dan kamera mirrorless.

Ini menjadi salah satu cara menanggapi permintaan pasar dan strategi dengan mengeluarkan kamera yang lebih ringan dan compact, agar tidak ketinggalan zaman.” Elly SimanjuntakFikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Juli 2016

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here