Ramadhan di Negeri Piramida

Menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan juga diikuti dengan tradisi-tradisi khas di berbagai negeri. Seperti halnya parade, pengajian, pesta rakyat, atau pasar dadakan yang diadakan masyarakat setempat. Satu dari sekian banyak tradisi tersebut dianut oleh beberapa negara di dunia, misalnya Mesir. Negara yang lekat dengan gurun pasir dan piramida tersebut juga memiliki tradisi dalam hidangan. Beranggapan bahwa makanan menjadi salah satu faktor penting dalam setiap perayaan, masyarakat Mesir pun menyiapkan makanan-makanan khusus ketika menjelang bulan Ramadhan, dikenal dengan istilah kanafah. Terbuat dari tepung, kelapa, madu, dan kacang-kacangan, Kanafah merupakan sajian utama yang akan dihidangkan selama bulan Ramadhan.

Panganan ini juga dijual di pertokoan dengan harga 120-280 poundsterling. Harga yang ditawarkan tergantung pada isian dan topping-nya. Sementara, para pedagang di pasar tradisional menawarkan harga yang lebih murah, yakni 45 poundsterling. Tetap seputar makanan, Qatayef, olahan yang terbuat dari kacang, kelapa, dan balutan madu juga menjadi salah satu sajian istimewa di Mesir. Qatayef mulai diperkenalkan Bani Ummayah pada kisaran tahun 716 M. Harga untuk makanan tersebut adalah dari 50 hingga 92 poundsterling. Tak hanya santapan, ada pula minuman yang juga dibuat khusus di bulan Ramadhan, yakni Qamar El-Din. Minuman dari campuran buah aprikot, kacang, dan kelapa ini biasa dinikmati untuk berbuka puasa.

Tradisi lain masyarakat Mesir yang tidak kalah unik ialah fanoos, yakni menyalakan lentera saat malam hari di sepanjang jalan, rumah, kafe, dan masjid. Biasanya berlangsung tepat satu minggu sebelum bulan suci. Ruas jalan-jalan sempit di Mesir akan berubah menjadi rumah produksi lentera dengan aneka bentuk seperti bulan, bintang, dan wujud ikonik Mesir lainnya. Harga yang ditawarkan terbilang cukup variatif. Lentera berbahan kayu harganya berkisar 65 poundsterling untuk ukuran kecil dan 120 poundsterling berukuran besar. Sementara, untuk lentera yang terbuat dari logam dijual dengan harga yang lebih tinggi, yakni 20-150 poundsterling. Ada pula lentera berbahan kaca dijajakan seharga 120 poundsterling.

Hingga saat ini tradisi fanoos terus dilestarikan di setiap generasi, sayangnya tidak ada bukti sejarah yang memastikan waktu tepatnya. Ada yang menyebut bahwa lentera ini bermula sebagai tanda menyambut kemenangan Sultan saat kembali ke Kairo. Namun, menurut legenda lokal yang paling populer, asal muasal fanoos ini mulai dilakukan ketika seorang penguasa Mesir bernama Al-Hakim bi-Amr AIlah pada abad ke-10 memerintahkan semua imam menerangi jalanan Kairo selama bulan Ramadhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here