Nicky Hogan | Trust & Professional Ethos

“Kita bekerja bukan karena ingin dilihat orang, tetapi ingin memberikan hasil terbaik. Benefit-nya kita yang merasakan dan investasi tersebut melekat pada diri.”

Dalam acara bedah buku, itulah perjumpaan pertama kami dengan Nicky Hogan. Ketika itu, penampilannya kasual agar selaras dengan acara yang berlangsung di kafe bilangan Jakarta Selatan saat akhir pekan pula. Di balik perawakan tubuh tegapnya, terpancar karisma pria hangat dan terbuka ketika berbincang mengenai obsesi. Dia terinspirasi mendiskusikan satu diksi yang menjadi nama grup majalah kami, yaitu obsession.

Perbincangan pun berlangsung singkat, karena pria kelahiran Sambas ini menjadi salah satu pembicara di bedah buku tersebut. Baru di awal tahun 2017, kami berhasil mendapatkan waktu di sela-sela kesibukannya mengelilingi berbagai daerah di Indonesia. Travelling salah satu bagian dari tugasnya untuk mengedukasi dan mensosialisasikan berbagai program investasi di Bursa Efek Indonesia.

Selama berdiskusi mengenai investasi dengannya, jauh dari kesan kaku, text book, dan memusingkan. Tepat sekali, pria bernama lengkap Hosea Nicky Hogan ini diamanahkan sebagai Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2018. Gaya bertuturnya yang komunikatif mampu menyederhanakan konsep investasi, agar mudah diterima berbagai kalangan.

Pengalaman 19 tahun berjibaku di dunia sekuritas membentuk pribadi ayah tiga putra ini selalu memprioritaskan trust atau kepercayaan dalam bekerja maupun berbisnis. Baginya, kepercayaan adalah pondasi dalam industri investasi. Nilai profesionalitas tersebut dijaga sejak menjadi staf, hingga menduduki posisi cemerlang saat ini.

 

Tiga Elemen

Saat menyelami gaya kepemimpinan lulusan akuntansi Universitas Tarumanegara ini tersurat pribadi yang fokus dan low profile. “Saya tidak peduli, apabila kolega saya datang lebih siang dan pulang lebih awal. Bagi saya, bekerja memberikan yang terbaik, disiplin, dan profesional. Tiga elemen penting itu menjadi pondasi berkarier di mana pun. Kita bekerja bukan karena ingin dilihat orang, tetapi ingin memberikan hasil terbaik. Benefit-nya kita yang merasakan dan investasi tersebut melekat pada diri,” ucap pehobi olahraga lari ini. Dia pun mengutamakan penerapan sikap rendah hati kepada anggota timnya.

Baginya, semua elemen dalam tim memiliki peranan penting. Dia pun mengambil pengandaian petugas sapu jalanan. “Kalau saya menjadi tukang sapu jalanan, saya akan tetap bekerja yang terbaik untuk kebersihan jalan. Pekerjaannya tidak terlihat oleh semua orang, namun dinikmati secara menyeluruh,” tandas pria kelahiran 14 Oktober 1968 ini serius.

Sikap low profile-nya juga tercermin dalam artian sukses dan mewah. “Mengantar anak-anak ke sekolah adalah kemewahan bagi saya. Tugas saya banyak mengharuskan travelling sosialisasi ke daerah-daerah. Ketika berada di Jakarta, momen kemewahan itu yang paling ditunggu-tunggu. Berakhir pekan dengan menonton film, makan bersama, atau mengantar mereka berolahraga juga salah satu momen berarti sebagai seorang ayah. Sukses bagi saya adalah ketika mengerjakan semua hal dengan cara terbaik dan saya dapat selalu mengasihi orang-orang terdekat,” tutupnya seraya tersenyum. Silvy Riana Putri | Edwin Budiarso

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Mei 2017

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here