Nurhaida: Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan/Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal

 

Sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi pengawas pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida terus mendorong investor lokal untuk berinvestasi. Ragam pengalamannya di bidang keuangan membentuk pribadi ekonom yang mumpuni.

 

10-nurhaida

Nurhaida salah satu sosok perempuan yang berkualitas di bidangnya. Perjalanan karier alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung ini sudah menguji ketahanan dan jiwa kepemimpinannya. Sebelum diamanahkan sebagai salah satu anggota dewan komisioner OJK, perempuan asal Sumatera Barat ini sudah menguntai daftar cemerlang di Bapepam dan Kementrian Keuangan.

 

“Setiap kali ditanya tentang pasar modal, saya selalu mengatakan bahwa pasar modal itu adalah dunia investasi jangka panjang. Jadi, kalau ingin melihat perkembangan suatu pasar modal, kita harus melihat dalam waktu 5—10 tahun ke depan,” ungkap perempuan kelahiran 25 Juni 1959 ini.

 

Saat ini, geliat sektor perbankan dan industi keuangan non perbankan seperti dana pensiun, jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan, serta asuransi, kian diminati masyarakat. Sementara pasar modal masih memerlukan upaya yang lebih keras lagi agar semakin dicintai masyarakat.  Minimnya ketertarikan masyarakat di pasar modal karena beberapa faktor di antaranya rendahnya pemahaman masyarakat terhadap instrumen pasar modal, masih adanya persepsi bahwa investasi di pasar modal sangat spekulatif, dan minimnya akses masyarakat terhadap produk-produk pasar modal.

“Salah satu upaya OJK adalah membuat sosialisasi dan program untuk meningkatkan kesadaran masyarakat berinvestasi di pasar modal. Kami juga memiliki program pasar modal inklusif yang bertujuan mendekatkan masyarakat dengan produk pasar modal yang sederhana, seperti reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi profesional. Masyarakat dapat mempunyai akses ke produk investasi tersebut melalui kantor pos dan swalayan kecil yang ada di wilayahnya masing-masing,”sambungnya.
Ke depannya, Nurhaida berharap pasar modal Indonesia didominasi investor lokal. “Selain memiliki kekayaan budaya dan tradisi, Indonesia juga dianugerahi bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya di tahun 2030 nanti. Kondisi tersebut merupakan modal dan potensi besar yang dapat dimanfaatkan secara optimal oleh bangsa ini, yaitu kita dan generasi yang akan datang,” tandasnya.

 

Di usia Indonesia ke-71 tahun, dia menguntai kerja keras ada di balik  kemajuan suatu negara. “Yang membedakan spirit awal kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 dengan kemerdekaan saat ini adalah orientasi perjuangannya. Di awal masa meraih kemerdekaan, orientasi para founding fathers adalah untuk membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan lain. Kini, di usia kemerdekaan 71 tahunnya, orientasi perjuangan Indonesia lebih bernuansa ekonomis dan kesejahteraan. Dengan modal independensi politis, kita harus mampu menjadi bangsa yang kuat, mandiri, maju, dan bermartabat.  Silvy Riana Putri | Istimewa

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here