Nyoman Anie Puspitasari | New Challenge, New World

Orang biasanya membeli asuransi biasanya karena tiga faktor. Hidup terlalu lama, mati terlalu cepat, dan penyakit kritis.

Berdasarkan survei yang dilakukan Swiss Reinsurance Ltd (Swiss Re) di enam negara pada Mei 2014 tentang kesadaran berasuransi, 89% masyarakat Indonesia sebenarnya sudah sadar akan pentingnya asuransi kesehatan dan jiwa. Namun, ternyata hanya 17% saja yang akhirnya membeli asuransi tersebut.

Artinya, orang Indonesia masih sangat perhitungan dalam urusan ini. Umumnya, mereka masih menganggap asuransi sebagai beban pengeluaran tambahan. Ada juga yang merasa masih sehat, sehingga belum memerlukannya. Itulah sebabnya, penetrasi asuransi jiwa di Tanah Air masih belum beranjak dari angka 2%, seperti yang tercatat di data OJK pada tahun 2014.

Berangkat dari semua kondisi tersebut, Astra Life pun diluncurkan November tahun lalu dengan visi agar bisa hadir di setiap rumah masyarakat Indonesia.

“Kami membawa misi untuk memberikan ketenangan pikiran dan membangun masa depan yang sejahtera kepada masyarakat.  Semua asuransi menurut saya sebenarnya sama saja, namun Astra adalah adalah perusahaan nasional champion, kami bercita-cita ingin menjadi asuransinya orang Indonesia.

Apalagi, penetrasi pasar masih kecil, tugas kami adalah membantu pemerintah untuk mengedukasi masyarakat dan memperbesar penetrasi tersebut,” ungkap Head of Marketing and Branding Astra Aviva Life, Nyoman Anie Puspitasari.

 

PESAN POSITIF

Astra Life melayani masyarakat Indonesia melalui berbagai macam produk perlindungan dan layanan perencanaan keuangan yang komprehensif dan dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh pelanggan.

Dia melanjutkan, “Kami melakukan strategi dan pendekatan pemasaran berbeda, yaitu lewat komunikasi pesan positif ketimbang memberikan rasa takut dan menjual kekhawatiran kepada customer.

Lalu, berusaha mendorong banyak orang untuk mencintai hidup, sesuai tagline dan filosofi Astra Life yaitu Love Life. Menikmati hari ini, berani bermimpi, dan mewujudkanya. Dengan tujuan akhir mewujudkan Indonesia yang lebih baik di kemudian hari.”

Berbekal semua kekuatan utama yang dimiliki, ke depannya Astra Life optimis bisa menjadi salah satu dari lima asuransi jiwa terbesar di Indonesia. Anie menerangkan bahwa pentingnya asuransi bukan dihitung dari berapa jumlah polis yang dimiliki, tapi berapa besar kebutuhan proteksi seseorang atas kehilangan sesuatu.

Misalnya, jika meninggal dunia, cacat tetap, penyakit kronis, dan lainnya, tiap orang berbeda-beda, tergantung dari value of life masing-masing. Berapa banyak tanggungan anggota keluarganya, sekolah anak-anak, dan dana yang dibutuhkan jika meninggal dunia.

Sementara, kita tak bisa mengandalkan tabungan yang sifatnya tidak long lasting. Value of life juga akan berubah dan gaji seseorang akan terus naik dan kebutuhan makin bertambah. Namun, bukan berarti asuransi jadi tidak dibutuhkan lagi.

Orang membeli asuransi biasanya karena tiga faktor. Hidup terlalu lama, mati terlalu cepat, dan penyakit kritis. Ketika orang hidup terlalu lama otomatis saat pensiun dia tidak lagi bekerja.

“Berarti siapa yang membiayai hidupnya? Bila seseorang meninggal dunia di usia 40 dan tidak mempunyai asuransi bagaimana dengan keluarganya? Sementara, sang istri kebetulan tidak bekerja.

Lalu, saat terkena penyakit kritis bertahun-tahun, contohnya penyakit kanker, tentunya akan mengerogoti dana tabungan,“ papar perempuan kelahiran 8 November 1974 ini serius. Elly Simanjuntak | Fikar Azmy

 

Untuk mendapatkan artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2016

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here