Linda Agum Gumelar | Perjuangan Belum Usai

Dengan penuh energi dan kebulatan tekad, Linda Agum Gumelar mengajak para perempuan rutin periksakan payudara.

“Kebanyakan perempuan enggan atau parno dengan kemungkinan hasil yang tidak menyenangkan. Toh, belum tentu hasilnya negatif, Langkah pemeriksaan ini merupakan deteksi dini sekaligus mengecek kondisi kesehatan. Walaupun terdeteksi ada benjolan, belum tentu mengindikasikan kanker,” urai perempuan kelahiran 15 November 1951 ini.

Sebagai salah satu survivor‎ kanker payudara, pendiri sekaligus ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia ini pernah merasakan ketakutan, kegalauan, dan kebingungan.

“Saat pertama kali mendengar pernyataan dokter bahwa di kedua payudara saya ada kanker stadium 0 yang ganas, betul-betul suatu pukulan, mengejutkan, menyedihkan, dan membuat kami down. Dunia terasa gelap dan tidak tahu harus berbuat apa.

Terlebih saya seorang ibu, ada anak-anak dan keluarga bergantung dengan kita. Ditambah lagi, di tahun 1996 itu, kasus kanker masih tabu. Ada desas-desus bahwa itu “kiriman” dari orang yang tidak senang dengan saya, bahkan disebut penyakit laknat.

Ketika bertemu Mba Rima Melati, sesama survivor, saya mendapat pencerahan. Kemudian saya berobat melalui jalur medis di Belanda. Alhamdulillah, setelah lima tahun menempuh proses panjang kemoterapi dan lainnya, dokter menyatakan saya bersih dari kanker,” kenang Linda dengan mata berkaca-kaca.

Meski sudah hampir 19 tahun lalu, Linda mengaku kondisi tersebut bukan hal yang mudah untuk dijalani. Selain kehadiran kanker yang tak diundang, Linda juga menghadapi efek samping dari kemoterapi, seperti mual, muntah, kebotakan, hingga kehilangan kepercayaan diri.

“Saya menantang diri untuk bangkit dan berjuang. Saya tidak mau kalah dengan perasaan terpuruk ataupun putus harapan. Sebagai makhluk sempurna ciptaan Allah SWT, saya percaya ikhtiar dan berdoa akan membawa hasil yang terbaik.

Dukungan besar para keluarga dan kerabat menjadi pegangan kuat untuk bangkit menjadi diri Linda yang sebenarnya,” urai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2009-2014.

Saling Jaga & Peduli
Seperti pepatah, pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan. Linda menjadikan pengalaman pribadi sebagai tonggak perjuangan membantu pasien kanker payudara lain dan mengajak para perempuan aktif memeriksakan kesehatan payudara.

Pada tanggal 19 Agustus 2003, Linda bersama pendiri lain yaitu Rima Melati Tumbuan, Tati A.M. Hendropriyono, Andy Endriartono Sutarto, dan mendiang Dr. Sutjipto membentuk Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ). Organisasi nirlaba ini merupakan mitra pemerintah untuk menggalakkan kegiatan penyuluhan deteksi dini kanker payudara di Jakarta.

Baru di bulan Januari 2015 ini, nama YKPJ berganti dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia. Perubahan nama ini merupakan komitmen memperluas cakupan wilayah sosialisasi deteksi dini kanker payudara di daerah terpencil, terluar, dan tertinggal seluruh Indonesia. Mengingat di Jakarta dan kota besar lainnya sudah banyak gerakan dan komunitas yang bergerak dan tingkat kepedulian masyarakat urban tentang deteksi dini kanker payudara sudah tinggi. Silvy Riana Putri | Fikar Azmy

 

Untuk mendapatkan artikel selengkapnya, dapatkan di Women’s Obsession edisi September 2015

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here