Pesona Jam Kayu Asli Indonesia

Kami memiliki strategi utama marketing Matoa, yaitu word of mouth marketing atau mengandalkan konsumen sebagai pelaku promosi.

MOYO 2   Jatuh cinta dengan yang namanya jam tangan, itulah yang dialami Lucky Aria, selaku founder &  CEO Matoa Indonesia. Awal ketertarikannya  membuat jam kayu dimulai sekitar empat tahun lalu, ketika dia membeli jam tangan kayu buatan Amerika. “Saat itu saya masih bekerja sebagai karyawan di bagian marketing communications sebuah perusahaan di Bandung. Saya cukup mengenal karakter konsumen Indonesia yang umumnya suka dengan berbagai produk berbau inovasi. Apalagi, waktu itu di Tanah Air belum ada yang memproduksi jam tangan kayu. Faktor inilah yang membuat saya berpikir  untuk mulai membuat jam tangan kayu,” jelasnya kepada Women’s Obsession.

Ternyata untuk memproduksi jam tangan kayu  ini tidaklah mudah dibutuhkan proses panjang. Dia menambahkan, “Saya akui proses pembuatannyalah yang paling sulit. Ketika itu belum ada yang mampu menghasilkan  jam tangan berbahan dasar kayu. Selain itu, juga  diperlukan ketelitian tinggi, karena materialnya sangat kecil dan kompleks. Spare partsnya juga masih sangat sulit didapat, karena belum banyak pabrikan jam tangan di Indonesia. Namun demikian,  saya tidak putus asa, tetap mencoba dan merasa senang, karena  akhirnya berhasil.”

MOYOProses awal pembuatan jam tangan ini dimulai dari pemilihan bahan baku, karena tidak semua kayu bisa digunakan.  Kemudian masuk ke tahap pembentukan material kerangka jam tangan dan  penghalusan kayu. Pelapisan kayu dilakukan, agar tahan air dan aman di kulit. Terakhir adalah finishing atau perakitan mesin, kaca, dan lainnya.

Bahan baku utama yang digunakan sekarang adalah kayu Maple (Kanada) dan Eboni (Makassar). Ini terbilang mudah didapat, karena sebagian menggunakan limbah sisa industri furnitur yang terdapat di Jawa Barat dipadu bahan baku baru. “Saya memberi nama Matoa, karena  merupakan jenis kayu yang hanya ada di Indonesia dan tidak ada di tempat lain. Selain itu, pengucapannya mudah dan cepat diingat banyak orang,”  katanya lagi.

 DISAMBUT ANTUSIAS

Benar saja perkiraan Lucky.  Setelah membuat jam tangan Matoa, ternyata pasar menyambutnya dengan antusias. Banyak orang menyukai hasil karyanya. Paling tidak hal ini terlihat dari tingginya animo konsumen untuk membeli kreasinya. “Sejauh ini perkembangan bisnis saya sangat baik. Dilihat dari jumlah kapasitas produksi setiap tahunnya terus meningkat. Pada awal Matoa berdiri, kami hanya sanggup memproduksi 70 unit perbulan, namun sekarang  sudah mampu membuat 600 jam  perbulan,” ungkapnya dengan bangga.

GILI 2

Saat ini sudah ada delapan  jenis kategori produknya, yaitu Flores, Sumba, Moyo, Rote, Gili, Alor, Jalak, dan produk kolaborasi untuk film ’40 Days In Europe’. ”Untuk perempuan paling banyak disukai tipe Moyo dengan bentuk bulat berwarna cokelat muda. Terlihat anggun dan feminin. Harga jualnya mulai dari Rp980.000 hingga Rp1.400.000,” jelasnya.

Untuk perawatannya pun terhitung mudah. “Cukup dibersihkan dengan kain dan selebihnya jangan simpan ditempat yang lembab. Garansi satu tahun, jika rusak karena kesalahan sendiri pun akan diganti dengan yang baru, “ papar Lucky.

 

TAK TAKUT PESAING

Sebagai suatu produk dia juga harus pandai membuat strategi marketing. “Kami memiliki strategi utama marketing Matoa, yaitu word of mouth marketing atau mengandalkan konsumen sebagai pelaku promosi. Dengan produk dan pelayanan yang baik, maka kami yakin dan tanpa diminta konsumen dengan senang hati akan menyebarkan berita baik ini kepada rekan-rekannya. Jadi, saat mereka puas otomatis akan bercerita kepada orang lain. Apalagi, sekarang dengan banyak sosial media, testimoni mereka tentang Matoa menyebar lebih luas ke masyarakat,” tambahnya dengan nada gembira.

ROTE2

Walaupun, awalnya merupakan produk pertama di Indonesia, Lucky menyadari akan munculnya para pesaing. Dia melanjutkan, “Suatu hal yang wajar pada suatu bisnis, bila ada  kompetitor dan memang saat ini sudah muncul beberapa pesaing. Tetapi, hanya Matoa yang memproduksi jam tangan dengan keseluruhan kayu, sedangkan merek lain masih digabungkan  material lain. Di samping itu, Matoa punya diferensiasi yang kuat pada produknya.  Justru itu, kami pikir adanya kompetitor,  maka marketnya malah kian terbuka dan membuat kami terpacu untuk selalu menghasilkan produk lebih baik lagi.”

Ke depannya, Matoa masih akan tetap mengembangkan fitur jam tangan kayu hingga ke arah wooden smart watch,  termasuk memperluas pasar yang saat ini sedang ramai di luar Indonesia. “Sejauh ini market luar negeri mengambil porsi sekitar 30%. Justru pasar luar negeri lebih menghargai proses produksi secara handmade yang dilakukan Matoa. Untuk pembelian eceran, hampir seluruh negara sudah pernah kami kirimkan. Saat ini kami memiliki distributor di Singapura, Malaysia, Jepang, dan Beijing. Sebagai produk lokal saya bangga bisa membuat suatu karya yang tidak hanya unik, tetapi juga mengusung nama Indonesia,” tuturnya dengan penuh percaya diri. (Aryani Indrastati) Foto: Dok. Matoa Indonesia

 

 

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here