Pinta Manullang-Panggabean | Sahabat Orang Tua Penyandang Kanker

Pinta Manullang Panggabean

 

Siang itu  ketika Women’s Obsession datang ke Rumah Anyo, di kawasan Slipi, terlihat empat anak kecil yang dengan riang bermain, berlari, dan bercanda di ruang bermain.  Anak-anak ini merupakan bagian dari  kegiatan  Yayasan Anyo Indonesia (YAI).

Rumah Anyo ini didirikan oleh Pinta Manullang-Panggabean bersama suaminya Sabar Manullang. “Ini merupakan rumah singgah sejak tahun 27 Juni 2012 dan telah menampung 160 orang selama ini. Ada 43 anak yang meninggal, karena mereka datang berobat dalam stadium akhir. Di sini Rumah Anyo hanya memfasilitasi anak-anak penyandang kanker. Tidak memberikan fasilitas pengobatan.

“Kami membantu para orang tua dan anak penyandang kanker yang sedang melakukan pengobatan. Hati saya tergerak melihat mereka yang rumahnya di luar kota atau jauh saat berobat ke Rumah Sakit Dharmais dan RS Anak dan Bunda.

Kalau yang rumahnya memang di Jakarta tidak masalah. Tetapi yang jauh dari akan sulit dan memakan biaya besar kalau harus pulang-pergi. Saya terbersit ide membantu dengan memberi mereka rumah singgah. Akhirnya keinginan saya berhasil dengan membangun Rumah Anyo ini.  Mereka hanya perlu membayar Rp 5000 per hari untuk biaya kebersihan dan mengganti seprai,” katanya.

SEMANGAT ANYO

Pinta tahu betul bagaimana rasanya seorang ibu dalam mendampingi anak penyandang kanker.  “Saya pernah  mengalami hal yang sama ketika merawat anak kanker. Anak pertama saya Andrew Maruli David Manullang, menyandang kanker darah atau leukemia. Andrew yang memiliki panggilan sayang Anyo ini lahir di Jakarta pada 14 Juni 1989 dan meninggal pada 7 Desember 2008,” jelas Pinta.

Awalnya Anyo hanya merasakan badannya sakit. Dari dokter yang memeriksanya Anyo divonis sakit tifus tetapi kondisinya tidak kunjung pulih. Dia malah semakin kurus dan membuat bingung.

“Kami membawa Anyo ke rumah sakit di Cinere untuk observasi total.  Tenyata, leukositnya tinggi sekali. Kami sedih, lemas ketika dia didiagnosis mengidap leukemia. Tanpa pikir panjang, saya lalu membawa Anyo ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta,” ungkap Pinta.

Ketika itu Anyo masih berusia 11 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Lalu,  dia dibawa ke RSCM bulan Oktober 2000. Saat itu, sedang ada kerja sama antara RSCM dan Academisch Medisch Centrum (ACM) Belanda, seperti RS pendidikan di Indonesia. Kerja sama itu terkait dengan penanganan penderita kanker.

Anyo menjadi bagian dari model kerja sama penanganan penderita kanker tersebut. Dia melanjutkan, “Karena itu, November 2000, saya dan Anyo ke Belanda untuk menjalani perawatan. Pengobatan kanker di ACM rata-rata sejenis kemoterapi. Total Anyo menjalani pengobatan di ACM selama 3,5 bulan. Setelah kondisinya membaik, dia diperbolehkan pulang dan dia pun kembali sekolah SMP.”

Tapi, saat  persiapan diri menghadapi ujian kelas 3 SMP, tiba-tiba kondisi kesehatan Anyo turun drastis. Dia lantas diterbangkan ke Belanda lagi untuk menjalani pengobatan. Saat itu Pinta sudah mulai senang dengan kesehatannya yang berangsur pulih. Tetapi, kondisinya kembali memburuk saat kelas 3 SMA dan menghadapi ujian akhir. Bahkan, saat itu keadaannya terlihat agak parah. “Saya berpikirkan dia sakit karena stres ujian.  Namun dokter mengatakan karena itu,” tambahnya.

Tim dokter di Belanda menyarankan agar dia menjalani transplantasi stem cell (sel induk atau sel punca). Sel induk yang akan ditransplantasikan ke Anyo adalah milik Andri Manullang, anak kedua Pinta.

Operasi transplantasi dilakukan pada 9 Mei 2007 dan berlangsung lancar. Kondisi Anyo terus membaik. Ketika dicek kondisi darahnya normal. Bahkan Anyo pun sempat kuliah di Amsterdam, Belanda.

Namun, selang setahun kemudian, pada April 2008, kesehatan Anyo memburuk. Dokter di sana sudah angkat tangan. Anyo kembali disarankan melakukan 6 kali kemoterapi lagi. Tetapi, saat memasuki kemoterapi ketiga, kondisi Anyo benar-benar lemah.

Pinta menanyakan ke Anyo untuk dirawat di Belanda atau Indonesia. Anyo memilih untuk pulang ke  Tanah Air. Kesehatannya kian memburuk, hingga akhirnya Anyo menghembuskan napas terakhirnya pada 7 Desember 2008.

“Sejak awal saya sudah punya komitmen dengan Anyo agar kami saling tidak stres saat mengikuti proses pengobatan. Kami saling dukung. Pengobatan Anyo begitu panjang hingga 8 tahun. Karena itu  ketika Anyo ingin ‘pergi’, dia sudah tidak takut. Dia malah bilang ‘Tuhan saya sudah siap sekarang’. Dia meninggal dengan wajah tersenyum,” kenang Pinta. Aryani Indrastati | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Agustus 2015

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here