Prioritaskan Dana Pensiun

Beberapa waktu lalu, klien saya bercerita mengenai beberapa mantan bosnya yang sudah pensiun. Beliau mengutarakan kesedihannya melihat fakta bahwa orang-orang yang dulunya memiliki jabatan mentereng dengan gaji fantastis, ternyata belum menjadi jaminan akan memiliki masa pensiun yang nyaman.

Uang pensiun dari kantor, akhirnya habis begitu saja. Dulunya, mereka ke mana-mana berkendara dengan mobil mewah. Kini, mobilnya dijual untuk menambah kebutuhan sehari-hari. Sungguh ironis.

Bukankah, masa pensiun seharusnya memiliki kehidupan yang lebih nyaman setelah bertahun-tahun bekerja mengumpulkan pundi-pundi uang?

Cerita dari klien saya tadi, hanyalah salah satu dari banyak kisah yang kami dengar di tim di Janus sebagai perencana keuangan.

Ada pula satu grup pensiunan yang meminta kembali bekerja kepada perusahaan mereka, karena pesangon miliaran rupiah raib tertipu investasi bodong.

Para pensiunan selalu menjadi salah satu target dari investasi bodong. Mereka yang memiliki financial habit baik semasa bekerja, pastilah mengerti ciri-ciri dari investasi menguntungkan dan mana yang hanya tipuan belaka.

Benang merah dari masalah-masalah pensiunan ini adalah tingkat financial literacy yang rendah, yaitu banyak masyarakat kita yang menghadapi isu middle income trap. Apakah itu?

Middle income trap terjadi ketika kalangan kelas menengah mengalami kehidupan yang stagnant secara finansial, meskipun penghasilan bertumbuh. Kalangan ini tidak pernah mencapai kategori ‘wealthy’ yang seharusnya.

Mengapa itu terjadi? Alasan utamanya adalah gaya hidup yang tinggi, sehingga mengabaikan pentingnya investasi. Hasil kerja keras digunakan kembali untuk membiayai gaya hidup dan tidak disisihkan untuk membeli aset-aset yang dapat memberikan keuntungan di masa depan.

 

2

Ketika tim kami melakukan financial review one on one terhadap para karyawan di berbagai perusahaan, kami mendapati beberapa kesamaan yang sering terjadi, salah satunya adalah pengeluaran libur akhir pekan yang begitu besar, dibandingkan pengeluaran untuk menabung.

Begitu sulitnya menyisihkan 10% dari penghasilan untuk menabung setiap bulannya, tetapi sangat mudah untuk menghabiskan nilai tersebut dalam satu kali akhir pekan.

Ketika berbicara mengenai dana pensiun, kebanyakan orang merasa belum perlu dilakukan dengan alasan masih muda, masih punya waktu untuk mengumpulkan uang yang lebih banyak lagi, dan alasan yang sering terlontarkan lainnya adalah kantor sudah menyiapkan fasilitas dana pensiun untuk karyawan.

Pertanyaannya adalah apabila Anda tidak paham cara mengelola keuangan ketika masih produktif, bagaimana bisa mulai mengelolanya saat Anda sudah tidak memiliki penghasilan lagi hanya dengan mengandalkan dana pensiunan kantor? 

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2017

 

Rubrik ini diasuh oleh FARAH Dini Novita, BA (Hons), RFA, CFP

img_07361

Perempuan lulusan The University of Nottingham, Malaysia ini adalah Vice CEO dan senior konsultan keuangan independen Janus Financial, perusahaan yang bergerak di bidang perencanaan keuangan individu dan bisnis.

Farah memiliki misi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam merencanakan keuangan sejak dini.

Dia juga mempunyai blog khusus perencanaan keuangan dari 2010, www.fin-chick-up.com yang empat tahun kemudian dijadikan sebuah buku berjudul FINCHICKUP: Financial Check Up For Ladies & Finchickup 2.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here