Nadiem Makarim | Social Movement by Technology

Komitmen dan kreativitas pria kelahiran 4 Juli 1984 ini telah terbukti. Saat awal merintis Go-Jek di tahun 2011, dia hanya memiliki 10 karyawan dan 20 pengemudi ojek. Kini, bersama co founder-nya, Michaelangelo Moran, Nadiem telah melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga Go-Jek menjadi moda transportasi yang aman, nyaman, dan memanfaatkan teknologi internet.

Transportation is choice for everybody. Masyarakat di perkotaan atau pedesaan bebas memilih moda transportasi mana yang lebih baik,” ungkap pria yang meraih gelar MBA di Harvard Business School ini.

Pengalaman buruk mengalami kemacetan di jalan-jalan kota Jakarta mendorong intuisi Nadiem untuk berinovasi. Dia menciptakan solusi dari moda transportasi yang sudah ada, yaitu ojek. Keseriusan Nadiem untuk berkecimpung di dunia bisnis transportasi ditunjukkan dengan keputusan menanggalkan posisinya sebagai eksekutif di Zalora Indonesia, Kartuku, dan McKinsey & Company.

“Kami benar-benar mendorong pengemudi Go-Jek untuk memberikan layanan yang nyaman, aman, dan harga yang terjangkau. Dari segi harga, Go-Jek menetapkan harga terjangkau, karena para pengemudi sudah pasti mendapatkan order. Standar layanan yang kami terapkan juga bermanfaat menambah skill, tingkat kedisiplinan, ketepatan waktu, dan melatih service level para pengemudi Go-Jek.

Bisa dibilang, Go-Jek adalah masa transisi mereka ke tahap selanjutnya yang lebih besar. Banyak dari mereka sudah berencana membuka usaha sendiri dari hasil dari Go-Jek. Hal ini sejalan dengan visi bahwa Go-Jek bukanlah bisnis melainkan revolusi sosial. Kami ingin menjadi penggerak yang mengubah bangsa,” aku pria dengan pesona mata hijau kecokelatan yang tajam ini.

Ketika ditanya siapa sosok inspirator, Nadiem segera menjawab, yaitu tim dan pengemudi ojek. “I think I’m huge fan of my own team and my drivers. I get inspired everyday by my BoD, my manager, my employee. So, I don’t look outside actually. Every day I get inspired by my team and my drivers.

Tim kami adalah anak-anak muda dengan kreativitas dan pemikiran luar biasa. Everyone here not looking for money. We here have a purpose. That’s something you can’t buy from anywhere. Vice presidentvice president kami usianya masih 25-26 tahun. Mereka sudah menjadi CEO multi huge business. Kami tidak memandang dari pengalaman dan usia, tetapi melihat dari drive, strong, and hunger to make a change,” jelasnya dengan ramah.

IMG_3968

GO-JEK ADALAH INDONESIA

Kemunculan bisnis serupa Go-Jek memunculkan beragam reaksi antara lain pro kontra di masyarakat dan kecemburuan pengemudi ojek pangkalan yang belum bergabung. Hal terburuk seperti kekerasan dan pelarangan juga pernah dialami pengemudi Go-Jek. Menanggapi kondisi ini, Nadiem bersikap tenang dan merangkul semua pihak untuk berpikir jernih.

Reaksi pelarangan dari pengemudi ojek pangkalan sudah ditangani tim satgas khusus yang bertugas mensosialisasikan tentang Go-Jek. Syukurlah, akhirnya mereka joint dengan Go-Jek.

“Tapi kalau untuk masalah kriminalitas, kami sudah bekerja sama dengan aparat kepolisian. Dengan hotline khusus, para pengemudi kami dapat melapor langsung. Hal lain yang perlu kita sadari bersama, ini adalah karya anak bangsa.

Kehadirannya meningkatkan kesejahteraan para pengemudi Go-Jek, pemerintah mendapatkan pajak baru dari sektor yang sebelumnya tidak ada, dan konsumen puas. Lalu, siapa yang dirugikan bila Pemda, rakyat, dan konsumen menang. Saya harap banyak media yang mengabarkan pesan ini ke masyarakat,” ujar bungsu dari tiga bersaudara ini dengan nada serius.

Nadiem pun tidak menutupi kabar adanya tawaran untuk membuka franchise Go-Jek di negara lain. “Meskipun sering diminta, saya tidak tertarik. Saya hanya ingin fokus dengan Indonesia. Go-Jek merupakan karya anak bangsa untuk kesejahteraan bangsa pula. Seluruh tim saya adalah Indonesia.

Sementara saya adalah putra daerah, ayah saya berasal dari Pekalongan dan ibu dari Pasuruan. Sejak kecil, kedua orang tua saya mendidik untuk selalu bekerja di negeri sendiri, walaupun sekolah di luar negeri,” sambungnya. Silvy Riana Putri | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi September 2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here